Fakta Masjid Agung Jateng Berarsitektur Jawa-Islam-Romawi

  • Bagikan
Masjid agung jawa tengah
Masjid agung jawa tengah. ©Wikipedia

SEMARANG – Masjid Agung Jawa Tengah dibangun mulai tahun 2001. Pembangunan Masjid Agung memakan waktu selama lima tahun, selesai di tahun 2006 dan diresmikan oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Masjid ini berdiri di atas lahan 10 hektare.

Gaya arsitek Masjid Agung Jawa Tengah merupakan penggabungan dari unsur Jawa, Islam dan Romawi. Diarsiteki oleh Ahmad Fanani yang memenangkan sayembara desain di tahun 2001.

Bangunan utama masjid berupa atap limas khas bangunan Jawa. Di bagian ujung dilengkapi kubah besar berdiameter 20 meter, ditambah 4 menara dengan ketinggian masing masing 62 meter dan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.

Gaya Romawi terlihat dari 25 pilar bergaya koloseum Athena di pelataran masjid. Pilar-pilar tersebut berhias kaligrafi menyimbolkan 25 Nabi dan Rasul. Di gerbang tertulis syahadatain atau dua kalimat sahadat.

Masjid Agung Jawa Tengah juga diperuntukkan sebagai objek wisata religi. Dilengkapi wisma penginapan berkapasitas 23 kamar berbagai kelas untuk para peziarah bermalam.

Masjid Agung Jawa Tengah juga dilengkapi dengan menara bernama Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio. Di lantai 2 dan 3 merupakan museum kebudayaan Islam

Di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong.

Di area serambi Masjid Agung dilengkapi 6 payung raksasa yang bisa buka tutup otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi. Payung elektrik dibuka setiap salat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha.

Sejarah berdirinya Masjid Agung Jawa Tengah berkaitan erat dengan Masjid Besar Kauman Semarang. Lahan tempat Masjid Agung berdiri merupakan tanah wakaf milik Masjid Besar Kauman.

Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah dimulai tanggal 6 Juni 2001. Gubernur Jateng kala itu membentuk tim koordinasi pembangunan masjid. Tujuan pembentukan ini adalah untuk menanganai masalah-masalah legal maupun teknis.

Pembangunan fisik dimulai tanggal 6 September 2002. Ditandai dengan pemasangan tiang pancang perdana yang dilakukan Menteri Agama Said Agil Huseib Al-Munawar dan Gubernur Jateng Mardiyanto.

Pemasangan tiang pancang pertama tersebut turut disaksikan oleh tujuh duta besar dari negara-negara sahabat, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Mesir, Palestina, dan Abu Dhabi.

Masjid Agung Jawa Tengah memiliki luas areal tanah 10 hektare, dengan luas bangunan induk untuk salat 7.669 meter persegi. Total dana yang dihabiskan untuk membangun mencapai Rp 198.692.340.000.

  • Bagikan