Budaya  

Gedung Marabunta, Tempat Berkumpulnya Meneer dan Noni Belanda di Semarang

Gedung Marabunta atau Schouwburg
Gedung Marabunta. ©Geonation.org

SEMARANG – Gedung Marabunta masih berdiri. Dibangun sekira tahun 1854, bangunan bernama awal Schouwburg ini berada di Jalan Cendrawasih, Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Dahulunya, gedung Marabunta menjadi tempat berkumpulnya para meneer dan noni belanda menghabiskan hari libur dan menikmati opera.

Tidak sulit menemukan bangunan Marabunta ini. Bangunan mencolok dengan patung dua semut merah besar di setiap sisi bagian atasnya. Gedung Marabunta beraksitektur Belanda tropis. Berdasarkan informasi yang dihimpun, selain jadi logo, dua semut itu juga inspirasi nama dari gedung ini. Marabunta adalah salah satu spesies semut karnivora dari Afrika. Marabunta artinya semut merah besar.

Iduladha

Pada zamannya, Gedung Marabunta atau Schouwburg merupakan tempat pertunjukkan opera dan cafetaria. Selalu ramai oleh kehadiran pengunjung yang didominasi orang-orang Belanda di akhir pekan. Kedatangan mereka untuk menyaksikan pertunjukkan opera, komedi, tarian, balet maupun live musik.

Baca juga:  Gelar Merti Dusun sebagai Wujud Rasa Syukur

Gedung Marabunta sempat rusak akibat banjir rob dan roboh, sehingga yang tersisa hanya sebagian dari banguanan aslinya.

Di tahun 1956, pengelolaan Gedung Marabunta dipegang oleh Yayasan Rumpun Diponegoro Kodam IV Diponegoro Semarang, yang selanjutnya dijadikan kantor oleh PT Marabunta Semarang. Gedung Marabunta kemudian direnovasi dan dibangun ulang tanpa menghilangkan bentuk bangunan lama.

Gedung Marabunta juga pernah dijadikan kafe di tahun 1999. Wujud di dalam gedung Marabunta bernuansa Klasik Eropa. Atap gedung menyerupai perahu terbalik yang tersusun dari kayu berwarna coklat. Di dinding gedung terdapat jaring-jaring kapal melintang. Di sisi kanan juga terdapat mini bar bertema kapal.

Baca juga:  Pawai Alegoris Tunjukkan Kekayaan Sejarah, Budaya, dan Kreativitas

Oleh seorang Pengusaha, gedung ini jadi tempat persinggahan para importir asing yang datang ke Semarang. Namun kafe hanya bertahan selama dua tahun karena situasi ekonomi saat itu.

DPRD Batang