Cerita WNI Asal Klaten di Kota Wuhan Saat Virus Corona Menyebar

Virus Corona
Ilustrasi Virus Corona

KLATEN – Hilyatu Millati Rusdiyah atau akrab disapa Milla, seorang warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China tidak menyangka perjalanannya mencari ilmu tidak mudah akibat merebaknya Covid-19 atau corona. Apalagi sepulang dari Wuhan, dia dan 238 WNI lain harus diobservasi terlebih dahulu di Natuna.

Saat itu, yang membuat warga Desa Kemalang, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini makin berat adalah sempat terjadi penolakan dari masyarakat setempat karena ketakutan mereka akan tertular virus tersebut.

Selamat Idulfitri 2024

Meski demikian, istri dari Ahmad Syaifuddin Zuhri bersyukur karena pada akhirnya masyarakat menerima mereka dengan lapang dada.

“Ini menghapus stigma bahwa yang datang dari Wuhan membawa virus corona,” katanya, Selasa (18/2). Dikutip dari Antara.

Sementara itu, ia mengaku gelisah saat masih berada di Wuhan dan belum bisa dipulangkan ke Indonesia karena ternyata penyebaran virus tersebut terjadi cukup cepat, yaitu dari pasien yang berjumlah ribuan hingga menjadi puluhan ribu dalam waktu singkat.

Baca juga:  Terdampak Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi Sumbar, Ratusan Warga Masih Mengungsi

“Virus ini juga bisa menyebar lewat udara. Kami tidak tahu kapan bisa terkena. Pemerintah Tiongkok mengimbau kepada semua warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, sampai akhirnya Pemerintah (Republik Indonesia) memutuskan melakukan evakuasi,” katanya.

Mengenai merebaknya virus tersebut, awalnya tidak terlalu dikhawatirkan oleh masyarakat, baik masyarakat lokal maupun pendatang seperti dirinya. Bahkan, pada awalnya atau tepatnya saat mereka masih berada di Wuhan, kondisi kota belum seramai saat ini.

“Karena saat itu belum dikonfirmasi bahwa virus itu bisa menular lewat udara dan antar manusia. Setelah tahu kalau mulai virus itu bisa menular antar manusia dan Pemerintah setempat memutuskan mengisolasi (lockdown) kota itu, kondisi mulai sepi. Apalagi saat itu juga kondisi Imlek dan musim dingin,” katanya.

Baca juga:  Berkaca dari Tragedi SMK Lingga Kencana Depok, Masyarakat Diminta Tolak Bus Tanpa Izin Layak Jalan!

Setelah merebaknya virus tersebut, ia mengatakan Pemerintah RI bertindak cepat dengan memulangkan WNI yang pada saat itu masih terjebak di Wuhan. Bahkan, mahasiswa program PhD Administrasi Bisnis Chongqing University itu mengatakan sejak masih berada di Wuhan, pemerintah terus memantau kondisi WNI.

“Yang pasti cukup gembira karena kami merasakan betul pemerintah hadir memantau kami setiap hari,” katanya.

Menurutnya, bukan hal yang mudah menjalani masa observasi di Natuna. Salah satu yang memberikan beban psikologis tersendiri adalah kerinduan terhadap keluarga.

“Yang dirindukan adalah keluarga. Otomatis, kan terpisah makin lama,” katanya.

Baca juga:  Lahan Wedi Kengser Kali Progo Dimanfaatkan untuk Pertanian

Meski demikian, selama di lokasi observasi pemerintah berupaya memberikan kenyamanan kepada para WNI. “Kami olah raga setiap pagi, makan bersama tiga kali sehari. Selain itu, ada juga aktivitas individu seperti karaoke dan games. Kami juga menjalani pemeriksaan kesehatan sehari dua kali, termasuk pemeriksaan suhu tubuh,” katanya.

Sepulangnya dari observasi, diakuinya, juga bukan hal yang mudah. Ia mengaku khawatir akan adanya penolakan masyarakat sekitar karena ketakutan akan terjangkit Covid-19.

“Yang pasti sampai saat ini kondisi kami sehat setelah diobservasi. Tidak ada yang kena (terjangkit Covid-19),” katanya.

Sebagai bukti bahwa kondisi WNI eks Wuhan tersebut dalam keadaan sehat. Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan sertifikat atau surat sehat untuk masing-masing peserta observasi sebelum pulang ke keluarga masing-masing.