Mengupas Keunikan Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang

Gereja Blenduk Semarang
Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang. ©Wikipedia

SEMARANG – Gereja Blenduk menjadi salah satu obyek wisata sejarah dan religi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Blenduk merupakan julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah, dan nama sesungguhnya gereja ini adalah GPIB Immanuel. Gereja Blenduk berada di kawasan Kota Lama Semarang. Gereja Blenduk didirikan pada tahun 1753, bangunan bergaya desain Neo Klasik ini terlihat sangat menonjol dengan kubah besar berlapis perunggu.

Dikutip dari Kementerian Pariwisata, Saat pertama kali dibangun, Gereja Blenduk memakai arsitektur tradisional Jawa dalam wujud rumah panggung. Beberapa kali bangunan ini mengalami perombakan, pertama pada tahun 1787 berupa perombakan total. Berlanjut pada 1794, dan pemugaran terakhir pada 1894 oleh W. Westmas dan H.PA. De Wilde yang sekaligus mengalami penambahan 2 menara. Sejak itu, Gereja Blenduk tetap berdiri kokoh hingga saat ini.

Baca juga:  AJI Semarang Tanggapi Kasus Oknum Wartawan Titip Menitip di PPDB

Bentuk Gejera Blenduk memang unik, terutama di bagian kubah besarnya. Bagian ini yang menjadi fokus dari keseluruhan bangunan luarnya, dengan dua menara kecil membuat keseluruhan desain terlihat sangat khas. Kubah berwarna kecoklatan, sangat kontras dengan dinding yang bewarna putih bersih.

Gereja Blenduk menghadap ke arah selatan dan memiliki tiga pintu masing-masing di depan dan di sisi kiri dan sisi kanan. Ketiganya dilengkapi pilar dan portico atau hiasan facade gaya Dorik Romawi dengan atap model pelana kuda. Sebelum memasuk ruangan gereja, pengunjung disambut dengan pintu model ganda dari material kayu dan berbentuk lengkungan di bagian atasnya. Jendelanya bergaya krepyak, dan kaca berwarna-warni.

Baca juga:  Pemprov Jateng Raih Penghargaan GDPK Award 2024, Bukti Komitmen Bangun SDM Unggul

Dalam ruangan utama terdapat beberapa interior yang menarik untuk diamati. Bangunan kuno dengan lantai yang ubin penuh ornamen warna kuning, coklat dan hitam yang dipadu dengan kursi untuk para jamaat berderet rapi terbuat dari kayu dikombinasi dengan rotan.

Di depan deretan kursi terdapat mimbar untuk paduan suara yang di dalamnya terdapat organ pipa atau orgel kuno bergaya barok buatan sekitar tahun 1700. Meski sudah tidak bisa dipakai lagi, keberadaan kedua alat musik lama ini mampu membuat interior ruang paduan suara ini terlihat makin khas.

Baca juga:  DPMPTSP Proyeksikan 25 Persen Industri di Jateng Manfaatkan Energi Terbarukan

Tidak jauh dari tempat orgel terdapat hiasan patung dalam wujud seorang bidadari bersayap sedang memainkan alat musik harpa dan di belakangnya terdapat patung yang juga berwujud bidadari bersayap sedang meniup terompet. Gereja ini hingga saat ini masih dipergunakan untuk tempat ibadah pada hari Minggu dan hari besar Kristiani lainnya. Jika ingin masuk melihat sebagai wisata rohani, atau melihat pesona arsitektur yang ada di dalamnya, wajib mengisi buku tamu dan mengisi sumbangan sukarela, di luar waktu peribadatan.