RSUD Kartini Jepara Bantah Telantarkan Pasien

  • Bagikan
EVALUASI: Direktur RSUD RA Kartini Jepara Dwi Susilowati didampingi Ketua Komisi C DPRD Jepara Nur Hidayat saat menggelar jumpa pers Rabu (18/3).(DOK LINGKAR JATENG)

Evaluasi Tumpukan Pasien di IGD

JEPARA- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RA Kartini Jepara akhirnya buka suara soal insiden yang menimpa seorang pasien bernama Lukita (70). Warga Desa Mambak, Kecamatan Pakisaji, Jepara itu meninggal di area parkir RSUD, karena diduga tidak mendapat pelayanan segera dari petugas pada Senin (16/3) lalu.

Direktur RSUD RA Kartini Jepara Dwi Susilowati membantah anggapan penelantaran pasien oleh petugas. Sebab, saat itu layanan di ruang instalasi gawat daruat (IGD) sedang penuh. Sehingga harus mengantre.

“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami tidak bermaksud yang seperti anggapan menelantarkan pasien. Karena pada saat itu IGD sedang penuh dan melebihi batas yang ada,” katanya saat jumpa pers dengan awak media di aula RSUD Kartini belum lama ini.

Dijelaskannya, kapasitas di rumah sakit pelat merah ini yakni hanya 13 stretcher atau bed IGD. Jumlah ini juga telah dilakukan penambahan 12 bed. Sehingga totalnya menjadi 25 bed IGD. Kendati kapasitas telah ditambah, namun saat kejadian masih ada pasien yang menumpuk. “Masih menumpuk. Antrean pasien yang di luar mencapai 19,” paparnya.

Dwi menyebut, korban bukan merupakan pasien rujukan dari puskesmas. Sebab tidak ada surat atau berkas rujukan yang diterimanya. Selain itu, juga tidak ada petugas kesehatan yang mendampingi ke RSUD. Namun, korban hanya diantar menggunakan mobil operasional desa.

“Masyarkat harus tahu kalau mau rujuk pasien harus ada faskes primer. Selain itu ada petugas yang mengikuti. Dan kami conect dengan SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu) di rumah sakit. Jadi tidak ada lagi pasien dalam mobil yang tidak terperiksa,” bebernya.

Atas insiden ini, pihaknya mengaku akan melalukan evaluasi. Jika ada penumpukan pasien, akan dipilih secara selektif mana yang benar-benar darurat dan harus didahulukan.

“Kita mawas diri lagi, kita memilah-milah mana yang true emergency. Ke depan sepeti itu,” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya bersama direksi telah menyambangi rumah duka dan melakukan komunikasi dengan pihak keluarga. Hal ini agar tidak ada kesalahpahaman dan menjadikan masalah berlarut-larut. “Kami juga telah diterima baik oleh pihak keluarga,” imbuhnya.

Diketahui sebelumnya, pasien Lukita meninggal saat hendak masuk IGD RSUD Jepara. Saat itu, keluarga meminta fasilitas kereta dorong ke petugas namun tidak diberi karena beralasan habis. Saat itu, korban juga telah didata dan diberi nomor antrean 19. Diduga karena terlalu lama menunggu dan kondisi korban kian memburuk, akhirnya nyawanya tak tertolong. (mam/one/lut)

  • Bagikan