Kisah Mistis Grojogan Sewu Tawangmangu

Grojogan Sewu
Grojogan Sewu / wikimedia.org

LINGKARJATENG.COM, KARANGANYAR – Banyak tempat wisata di Indonesia yang tidak lepas dari cerita mistis. Cerita ini berkembang luas di masyarakat. Salah satunya adalah makhluk halus penunggu Grojokan Sewu Tawangmangu, Jawa Tengah.

Nama Grojogan Sewu berasal dari bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia, ‘grojogan’ artinya “air terjun”, sedangkan ‘sewu’ artinya “seribu”. Penamaan “seribu” pada air terjun ini disebabkan oleh aliran airnya yang sangat deras. Konon, menurut para ahli spiritual, air terjun ini merupakan tempat pertemuan bagi para roh leluhur yang hidup di Pulau Jawa pada zaman dahulu dan para makhluk gaib lainnya. Maka dari itu, wajar saja jika tempat ini dinilai angker oleh para warga sekitarnya.

Di kawasan air terjun, terdapat sebuah jembatan kayu yang seringkali dipakai oleh para pengunjung untuk berfoto. Mitosnya, jika ada sepasang kekasih yang datang untuk berpacaran dan melalui jembatan itu, hubungan mereka pun tidak akan bertahan lama jika nasib mereka sedang tidak mujur. Bisa jadi sepasang kekasih itu putus di tengah jalan, atau mungkin tidak jadi naik ke pelaminan meskipun sudah sepakat untuk menikah.

Menurut paranormal, jembatan yang diberi nama Kretek Pegat (Jembatan Pemisah) itu memang memiliki aura pemisah atau pegat. Kabarnya, dulu pernah ada sepasang suami-istri yang baru saja menikah dan berlibur ke Grojogan Sewu. Ketika pulang, mereka mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.

Di jembatan kayu itu sendiri, konon seringkali terlihat sosok penunggu yang memiliki wujud kakek-kakek. Menurut cerita yang beredar di sana, kakek itu merupakan abdi setia dari Kyai Baladewa. Biasanya kakek itu akan terlihat di saat petang dan kawasan di sana sedang dipenuhi oleh kabut.

Selain sosok abdi Kyai Baladewa, kabarnya Grojogan Sewu memiliki penunggu-penunggu yang berbeda di setiap titik. Lapisan terluar dari kawasan tersebut konon ditunggui oleh sejumlah kuntilanak.

Di sana juga ada patung ular yang kabarnya merupakan batas gerbang menuju dimensi gaib. Jika ada yang bertindak tidak sopan atau menantang para penunggu, bisa-bisa orang itu akan dibawa ke dimensi lain dan tersesat. Berhubung lokasi ini sendiri merupakan tempat pertemuan para roh leluhur, sudah sewajarnya para pengunjung bertindak sopan saat datang ke tempat ini jika tidak ingin diganggu.

Sumber: yukepo