Mengenal Zoombombing, Tamu Tidak Diundang di Rapat Online

Ilustrasi rapat online

LINGKARJATENG.COM – Aplikasi konferensi video asal Amerika, Zoom banyak digunakan untuk rapat online atau pertemuan-pertemuan penting dalam masa pandemi corona ini. Alasannya karena Zoom memberikan akses gratis selama 40 menit untuk keanggotaan tidak berbayar (basic), dan bisa menampung hingga ratusan partisipan dalam sekali waktu.

Namun keluhan adanya tamu tidak diundang di aplikasi Zoom juga dialami banyak orang. Hal ini disebut sebagai Zoombombing. Tamu tersebut tidak diundang, tiba-tiba ikut bergabung dalam video konferensi online. Aktivitas mereka juga tidak jelas dan mengganggu.

Dikutip dari Antara, istilah Zoombombing merujuk pada peristiwa orang, atau sekumpulan orang tidak dikenal, yang sebenarnya tidak diundang ke pertemuan tersebut, lalu mereka menginterupsi jalannya pertemuan.

Gangguan yang disebabkan bermacam-macam, dalam kasus pertemuan tadi, penyusup membuat suara gaduh dan menayangkan gambar-gambar tidak pantas.

Baca juga:  Prestasi Membanggakan! Pemprov Jateng Raih Penghargaan TPID Award 2024

Zoom sejak Maret lalu sudah memahami peristiwa Zoombombing ini, menurut mereka terjadi setelah aplikasi ini banyak digunakan oleh masyarakat luas untuk berkomunikasi selama physical distancing di berbagai negara. Peristiwa ini pun sudah sering terjadi di berbagai negara.

CEO Zoom, Eric Yuan menulis surat terbuka berisi permintaan maaf karena berbagai celah keamanan yang terjadi karena secara mendadak aplikasi mereka begitu populer, melebihi ekspektasi.

Zoom, sejak wabah virus corona menjangkiti warga di berbagai belahan dunia, mengalami lonjakan pengguna menjadi 200 juta per hari pada Maret lalu, sementara per Desember 2019 mereka digunakan 10 juta orang per hari.

Untuk memahami kejadian Zoombombing, Antara menghubungi pakar keamanan siber dari Vaksin.com Alfons Tanujaya.

Baca juga:  Pertumbuhan Ekonomi Jateng 4,98%, Pemprov Jateng Raih 3 Penghargaan The Best Regional Champion 2024

Peristiwa Zoombombing perlu dipahami melalui bagaimana aplikasi Zoom digunakan, jauh sebelum populer digunakan publik, aplikasi ini merupakan platform konferensi video yang umumnya digunakan oleh perusahaan untuk rapat dari jarak jauh.

“Aplikasi ini sudah digunakan di kalangan pemimpin perusahaan,” kata Alfons.

Peserta rapat yang hanya sedikit ditambah dengan budaya perusahaan, para pengguna Zoom sudah memahami aturan main mengadakan rapat secara virtual. Fitur-fitur yang disematkan di Zoom, seperti Screen Sharing, yang bisa memuat apa yang ada di layar komputer dan berguna untuk presentasi, pun disesuaikan dengan kebutuhan rapat.

Zoom memiliki fitur “virtual background”, mengganti latar belakang video dengan gambar yang diinginkan. Untuk keperluan rapat kantor, pengguna bisa mengganti latar belakang dengan logo perusahaan, agar terlihat lebih profesional.

Baca juga:  Pemprov Jateng Raih Digital Government Award dari Presiden

Fitur keamanan dari Zoom, ruang rapat virtual ini dilengkapi dengan ID dan kata kunci sehingga tidak sembarang orang bisa masuk ke pertemuan tersebut.

Begitu aplikasi ini populer di kalangan masyarakat luas, mereka belum tentu memiliki budaya dan pengetahuan yang sama dengan para pengguna di kalangan perusahaan.

Di kalangan perusahaan, ID dan kata kunci untuk rapat Zoom hanya dibagikan kepada para peserta rapat. Sementara di kalangan masyarakat umum, ada orang-orang yang membagikan informasi tersebut di media sosial misalnya, untuk mengundang teman-temannya ikut pertemuan virtual.

Akibatnya, orang-orang tidak diundang tadi bisa masuk ke pertemuan dan mengacaukan rapat lewat fitur-fitur yang sebenarnya dibuat untuk keperluan profesional.