Pemkot Percepat Penuntasan Kawasan Kumuh

Rakor Rencana Penanganan RTLH Penataan Kawasan Permukiman Kumuh Kelurahan Krapyak
MUSYAWARAH: Rakor Rencana Penanganan RTLH Penataan Kawasan Permukiman Kumuh Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara. (DINKOMINFO KOTA PEKALONGAN/ JOGLO JATENG)

PEKALONGAN – Pemerintah Kota Pekalongan telah menetapkan kawasan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, sebagai kawasan prioritas yang akan dituntaskan penanganan kawasan kumuh. Rencana ini sudah dimulai sejak tahun 2017 yang didasarkan pada SK Walikota tentang Penetapan Kawasan Kumuh yang diterbitkan tahun 2016.

Untuk mempercepat penanganan tersebut, Pemkot Pekalongan menggandeng CSR PT Sarana Multigriya Financial (SMF) yang akan membantu secara konferensif kepada 16 Warga Terdampak Program (WTP).

Walikota Pekalongan, Saelany Machfudz mengatakan, dasar pertimbangan kawasan Krapyak dijadikan prioritas karena di wilayah tersebut disamping kondisinya kumuh, kawasan ini memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan baik  potensi perikanan, budaya, batik, dengan didukung potensi wisata kuliner khas daerah setempat.

Baca juga:  Pj Gubernur Jateng Serahkan Bantuan KUBE Sebesar Rp 400 Juta

“Sehingga Kawasan Krapyak diprioritaskan menjadi kawasan percontohan penanganan kumuh, sekaligus dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis kearifan lokal,” ujarnya belum lama ini.

Direktur PT SMF, Trisnadi Yulrisman mengatakan, PT SMF bekerjasama dengan KOTAKU membantu Pemkot Pekalongan untuk memfasilitasi hunian kluster yang layak bagi WTP yang lokasinya tidak jauh dari tempat huniannya yang lama. Pihaknya secara nasional mendapatkan tugas selaku Persero dibawah Kementerian Keuangan RI untuk program pengembangan  pemukiman di daerah kumuh sejak 2018.

“Dalam kerjasama ini, kami memberikan bantuan disisi perumahannya kepada WTP yang sifatnya hibah agar WTP ini bisa memiliki hunian yang layak, nyaman,bersih, bebas kumuh, terlebih mereka ini sudah bertahun-tahun mengalami dampak rob yang luar biasa karena tempat tinggal mereka di bantaran sungai terkena imbas luapan dari tingginya air laut yang mengalir melalui sungai,” jelas Trisno. (hms/gih)