Kudus  

Dispertan Kudus Siap Bantu Petani yang Terancam Puso

Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu
TERENDAM: Lahan sawah yang berada di Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu yang terendam oleh banjir, Kamis (4/2). (SYAMSUL HADI / JOGLO JATENG)

BANJIR yang melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Kudus tidak luput merendam lahan persawahan di lima kecamatan. Di antaranya Kecamatan Jati dengan total 216 hektare, Mejobo 399 hektare, Kaliwungu 530 hektare, Jekulo 475 hektare, dan Undaan 1.390 hektare. Total lahan yang tergenang mencapai 3.010 hektare, dan hampir semua terancam puso. Berangkat dari ini, Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus bakal memberikan bantuan kepada petani.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan (Dispertan) Kudus, Dewi Masitoh mengatakan, setidaknya ada tiga hal yang bakal dilakukan oleh pihaknya. Pertama, membantu para petani dalam mengajukan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Kedua, meminjamkan pompa air kepada para petani jika genangan di sawahnya masih bisa dipompa. Ketiga, mengusulkan benih bantuan ke Kementerian Pertanian (Kementan) bagi para petani yang tanamannya puso.

Baca juga:  HUT Bhayangkara, Momentum Kolaborasi untuk Negeri

“Kami akan membantu masyarakat yang ingin mengajukan klaim AUTP. Klaim bisa diajukan melalui peninjauan yang dilakukan petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sekaligus Jasindo,” terang Dewi di Kudus, Kamis (4/2).

Dewi melanjutkan, klaim AUTP sebesar Rp6 juta dan akan dicek terlebih dahulu oleh pihak Jasindo. Ia juga berharap agar bantuan benih yang diusulkannya bisa disetujui sehingga petani yang tanamannya puso bisa menanam kembali dengan kerugian yang bisa diminimalisasi.

Sebagai informasi, banjir yang melanda di lima kecamatan memang turut merendam ribuan hektare sawah. Hujan deras yang melanda Kota Kretek selama berhari-hari disinyalir jadi penyebab utama.

Baca juga:  Cabup Jepara Mas Wiwit Kunjungi Karimunjawa, Ini Tujuannya!

“Lima kecamatan tersebut berada di dataran rendah sehingga banjir bisa saja melanda. Paling banyak di Kecamatan Undaan, karena memang di situ lumbung padinya Kudus,” urai Dewi.

Dewi melanjutkan, hampir semua padi terdampak mengalami puso atau gagal panen. Yakni sebanyak 2.856 hektare. “Bisa dinamakan puso, dengan kriteria tanaman terendam lebih dari satu minggu dan setelah itu tidak bisa tumbuh kembali,” jelasnya. (sam/abu)