Tiga Tanggul Jebol, Pati Utara Disergap Banjir

  • Bagikan
Balai Desa Bakalan Kecamatan Dukuhseti
DIKEPUNG: Balai Desa Bakalan Kecamatan Dukuhseti terlihat masih dikepung genangan air hingga Rabu (24/2). (ACHWAN / JOGLO JATENG)

PATI – Belasan desa di Kecamatan Tayu dan Dukuhseti disergap banjir. Air bercampur material lumpur meluap menggenangi rumah dan jalan raya akibat jebolnya tanggul pada Rabu (24/2) dini hari. Yakni tanggul sungai Dumpil, Doro Rejo dan Ngarengan. Tingginya debit air kiriman dari Pegunungan Muria tak mampu dibendung oleh tiga tanggul tersebut sehingga meluber ke sawah dan pemukiman warga.

Ahmad Zuhri, Koordinator Relawan NU-Care Tayu menyebutkan di kawasan Pati Utara setidaknya 13 desa yang digenangi air dengan ketinggian bervariasi sejak Selasa (23/2) malam. Tiga tanggul yang jebol kini sedang mendapatkan rehabilitasi darurat dari warga setempat. Bahkan pada Rabu (24/2) dini hari Desa Luwang Kecamatan Tayu sempat diterjang banjir bandang yang membawa serta lumpur dan ranting pohon.

“Banjir Di Kecamatan Tayu sendiri meliputi Desa Kalikalong, Doro Rejo, Tayu Wetan, Sambiroto dan Keboromo. Sedangkan Kecamatan Dukuhseti meliputi Desa Puncel, Kembang, Tegalombo, Alasdowo, Bakalan, Dumpil, Dukuhseti dan Ngagel. Air berwarna keruh sebab membawa material lumpur dan sampah-sampah hutan,” terangnya.

Baca juga:  KPP Pratama Kudus Butuh Relawan Pajak

Ia memperkirakan air datang dari kawasan lereng muria bersamaan dengan hujan deras yang melanda Pati Utara semalaman penuh hingga dini hari. Selain itu, rusaknya kawasan resapan air juga menjadi penyebab terjadinya banjir. “Kawasan pegunungan muria sudah mulai rusak. Banyak penambangan dan pembukaan hutan untuk ditanami,” sebutnya.

Ahmad Nashirudin, seorang warga Desa Tegalombo berpendapat serupa. Ia menyatakan selain cuaca ekstrem ia menyebut luapan air ini diakibatkan kawasan hutan yang ada di sisi selatan desanya mengalami penurunan daya dukung ekologi.

“Pohon tegakan sudah langka. Mayoritas lahan ditanami ketela. Kondisi tersebut akan mempengaruhi aliran air yang langsung ke sungai,” jelasnya.

Saat ini akses transportasi antar desa juga terhambat disebabkan air menggenangi jalan raya Tayu-Dukuhseti sepanjang 6 Km, sehingga membuat arus lalu lintas tersendat. Belum ada data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tentang jumlah rumah warga yang terendam. Diperkirakan sekitar 80 hektar sawah dan kurang lebih 40 hektar tambak terdampak bencana. (cr4/fat)

  • Bagikan