Cyberreligion Webinar, Menemukan Sanad Belajar Agama di Jagat Maya

  • Bagikan
Cyberreligion Webinar
TANGKAPAN LAYAR: Suasana Cyberreligion Webinar yang diadakan oleh Digital Humanities Center of Indonesia, Senin (01/03). (NANANG / JOGLO JATENG)

SEMARANG – Kondisi pandemi yang membatasi pertemuan secara langsung, menjadikan fenomena belajar agama di dunia maya menjadi mainstream kebanyakan orang saat ini. Lewat media sosial dan internet, orang mengikuti kajian keagamaan tanpa tahu sanad keilmuan dari seorang ustadz/ustadzah.

Atas dasar itulah, Digital Humanities Center of Indonesia (DHCI) mengadakan Cyberreligion Webinar dengan tema “Menemukan Sanad Belajar Agama di Jagat Maya”, Senin (01/03). Tercatat 200 peserta mengikuti webinar yang diadakan via aplikasi video conference tersebut.

Direktur DHCI, M. Afifuddin Alfarisi, M.A mengatakan, webinar tersebut diselenggarakan dalam rangka membekali kaum beragama dengan pemikiran kritis dan verifikatif dalam belajar agama di dunia Maya. Ia menilai, perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat orang tak lagi mudah membedakan mana yang ahli agama dan mana yang tidak.

“Hari ini kita tidak bisa lagi membendung derasnya arus teknologi. Yang bisa kita lakukan adalah menyesuaikan dengan keadaan. Mari kita dorong ustadz/ustadzah yang jelas sanad keilmuannya untuk juga berpartisipasi dalam pertarungan pembelajaran agama di dunia Maya. Agar tidak salah diisi oleh orang-orang yang intoleran,” kata pria yang akrab disapa Faris itu, Selasa (02/03).

Adapun pembicara pada webinar tersebut adalah Dr. H. Mukhsin Jamil, M.Ag (Wakil Rektor II UIN Walisongo Semarang) dan H. Muhammad Hanif, M.Hum (Ketua GP. Ansor Kab. Semarang). Hadir juga bintang tamu dalam acara tersebut yaitu Candra Dwi Jayanti, S.Pd (Aktivis Gema FKUB) dan Rikza Aufarul Umam, Lc (Ketua PCINU Mesir).

Dalam paparannya, Dr Mukhsin Jamil menyampaikan bahwa perubahan-perubahan dalam konteks socio-technologi telah melahirkan adanya virtual ulama dan cyberreligion. Ia menyebut, Internet harus dihadapi dengan bijak, termasuk bagaimana agama dapat memasuki dunia digital.

“Setidaknya kita harus memahami realitanya. Saat ini tengah bermunculan cyber group, yaitu suatu kelompok yang mengekspresikan aktivitasnya didunia maya. Teroris, kyai, ulama, apapun saat ini ada di dunia maya,” kata Dr. Mukhsin Jamil.

Selain itu, adapula virtual islam, yakni islam yang hidup di dunia virtual/dunia maya dan mendeseminasikan ideologi. Aktivitasnya bahkan untuk merekrut anggota melalui pertemuan-pertemuan virtual yang diagendakan.

Baca juga:  UMK Mewisuda 776 Mahasiwa Secara Drive Thrue

“Disadari atau tidak, informasi keagamaan di media social sekarang berpengaruh terhadap cara-cara kita dalam memahami agama. Sehingga kita tidak bisa lagi menggunakan cara konvensional dalam pertarungan wacana yang ada,” imbuhnya.

Sementara itu, Muhammad Hanif atau yang akrab disapa Gus Hanif, lebih banyak menyampaikan tentang cara menyikapi era modern yang serba digital ini. Menurutnya, medsos dan segala perangkat digital ibarat dua sisi mata pisau, yang pertama dunia digital ini bisa mencerahkan dalam hal-hal tertentu, tapi pada sisi yang lain dapat memecah persatuan bangsa.

Disamping itu, sulitnya mengontrol medsos dan dunia digital juga akan berakibat fatal. Di dunia maya, seseorang bisa menjadi siapa dan apa saja. Ia akan berubah wujud dan fungsi menyesuaikan kepentingan yang melatarbelakanginya.

Maka di dalam Al Quran terdapat ayat yang berbunyi “Fas’aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’alamuun”. Tanyalah kepada ahlinya ilmu pengetahuan jika kamu tidak tahu. Atau dalam satu adagium lain dikatakan bahwa apabila kita menyerahkan urusan kok tidak pada ahlinya maka “Fantadziris saa’ah”, kehancuran itu pasti akan datang,” kata Gus Hanif.

Ia juga menekankan bahwa media sosial memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan kita. Algoritma medsos akan selalu mengarahkan kita pada situs-situs yang kita cari dan minati. Jika tidak digunakan dengan baik, seorang anak muda yang usianya masih labil, berpotensi terkena brain wash atau cuci otak yang berkaitan dengan masalah terorisme, radikalisme dan sebagainya yang di dapatkan dari dunia digital dikarenakan adanya keinginan mendalami agama secara instan.

“Ketika kita ingin belajar dari platform digital, yang perlu diperhatikan adalah adanya konfirmasi dan verifikasi. Siapa ustadnya, belajar dimana, gurunya siapa. Itu penting. Misal, kita mendengarkan pidatonya Gus Baha, atau Gus Mus, secara sanad itu mu’tabar, bisa dipertanggung jawabkan. Tetapi kalau kita belajar kepada orang-orang yang dengan image media keren, ustadz-ustadz karbitan yang nggk jelas belajar dimana itu kan repot,” tandasnya. (cr2/gih).

  • Bagikan