Setahun Pandemi, Kemiskinan Meningkat

  • Bagikan
Potret Kemiskinan
ILUSTRASI : Potret Kemiskinan di Kabupaten Demak. (ANTARA / JOGLO JATENG)

DEMAK – 2 Maret 2020 lalu, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif Covid-19 pertama di Indonesia. Sampai sekarang, pandemi Covid-19 tak kunjung usai. Hal tersebut sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat, khusunya dalam sektor ekonomi. Tercatat, angka kemiskinan dan pengangguran meningkat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika (BPS) Kabupaten Demak, angka kemiskinan di Kota Wali ini mencapai 12, 54 persen. Angka ini lebih tinggi daripada tahun sebelumnya yang hanya 11,86 persen. Jumlah penduduk miskin pada tahun 2020 sejumlah 146,87 ribu jiwa dengan garis kemiskinan sebesar Rp. 432.533/kapita/bulan.

“Kemiskinan di Demak masih berada di atas angka kemiskinan rata-rata se-Provinsi Jawa Tengah,” terang Ketua BPS Demak, Sapto Harjuli Wahyu, kemarin.

Ia menambahkan, rata-rata pengeluaran perkapita sebulan tahun 2020 di Demak sebesar 1,10 juta rupiah. Angka ini naik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1,03 juta rupiah. Persentase pengeluaran perkapita sebulan yang terbesar adalah komoditas perumahan dan rumah tangga serta makanan dan minuman jadi, yaitu berturut-turut 21,77 persen dan 19,37 persen.

“Selama pandemi ini, angka kemiskinan naik, budaya konsumtif naik. Ya mungkin karena, terbatasnya aktivitas di luar rumah. Jadi konsumsi terhadap makanan dan minuman meningkat,” imbuhnya.

Baca juga:  Berani Jujur, 27 KPM Pekalongan Mundur dari PKH

Tingginya angka kemiskinan tersebut juga dibarengi dengan tingginya jumlah pengangguran. Data BPS Demak menunjukkan, angka pengangguran saat ini mencapai angka 7,31 persen. Sedangkan hasil rekapitulasi Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Dinnakerind) Demak, tenaga kerja yang dirumahkan dan di-PHK selama pandemi Covid-19 berjumlah 2913 orang.

Tenaga kerja yang dirumahkan dan asli warga Demak berjumlah 1705 orang, sedangkan yang berasal dari luar daerah 1208 orang. Kemudian, tenaga kerja yang di PHK dan merupakan asli warga Demak berjumlah 20 orang, sedangkan dari luar daerah 20 orang.

“Itu dulu, waktu awal Covid-19. Mungkin kaget, sekarang sudah normal. Laporan dari perusahaan sudah kembali memperkerjakan karyawannya yang dirumahkan dan PHK,” jelas Mediator Hubungan Industru (HI) Dinnakerind Demak, Endang Yuniarti di kantornya.

Ia juga mengatakan, tidak ada perusahaan atau pabrik yang benar-benar tutup selama pandemi. Hanya satu yang masih terkendala yaitu PT. Conesia Garmen. Masalahnya pun hanya pada pendistribusian atau pemasaran, dan tidak adanya bahan baku industri.

“Masalah itu tidak sampai ada PHK, para pekerja baik-baik saja. Mereka belum bekerja ya karena belum adanya bahan baku untuk melakukan kegiatan produksi kembali,” imbuhnya. (cr3/gih)

  • Bagikan