Nelayan Mulai Panen Udang Rebon

  • Bagikan
nelayan di Kota Pekalongan
MELIMPAH: Seorang nelayan di Kota Pekalongan sedang menjemur udang rebon yang ia panen, Selasa (30/3). (HUMAS / JOGLO JATENG)

PEKALONGAN – Akhir bulan ini para nelayan di Kota Pekalongan mulai panen udang rebon. Hasil panen udang rebon tersebut nantinya diolah menjadi terasi untuk meningkatkan nilai ekonominya.

Salah seorang nelayan, Zaenal Abidin mengungkapkan bahwa akhir bulan Maret ini ia sedang gencar memanen udang rebon. Selain cuaca yang mendukung, keberadaan udang rebon pada akhir musim penghujan dominan mendekati garis pantai. “Ini lebih mudah untuk kami tangkap tanpa harus ke tengah laut,” katanya Selasa (30/3).

Ia mengatakan, jika musim kemarau hasil tangkapan udangnya hanya berkisar belasan kilogram. Namun sekarang lebih dari puluhan kilogram yang dapatnya setiap hari.

“Harusnya ini sudah sejak bulan Februari tetapi baru bulan Maret ini panen raya karena kelewat gelombang kemaren,” tuturnya.

Hasil tangkapan ini kemudian para nelayan olah udang rebon menjadi terasi agar bisa meningkatkan harga jualnya. Seorang perajin terasi di Pantaisari Kota Pekalongan, Mugiono menyebutkan bahwa jika udang rebon sebelum diolah harganya Rp25.000 per kilogramnya, namun setelah diolah naik menjadi Rp50.000 per kilogramnya.

Baca juga:  Diterjang Gelombang Tinggi, Seorang Nelayan Hilang di Perairan Utara Batang

“Dalam sehari-hari rata-rata saya bisa membuat terasi sebanyak 5 kilogram,” imbuhnya.

Mugiono menjelaskan proses pembuatan terasi, rebon itu termasuk udang kecil dan setelah dijemur kemudian disortir. Lalu ditumbuk dan dicetak jadi terasi. Terasi yang dibuat oleh masyarakat ini sebagian besar dipasarkan sendiri dan sebagian diambil oleh pengepul untuk di jual ke daerah di Pantura dan Jakarta.

“Keunggulan terasi di sini yaitu lezat, tidak kasar, lembut, dan tidak ada campuran apapun, asli dari rebon,” ujarnya.(hms/akh)

  • Bagikan