Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Dorong Guru Miliki Kompetensi Campuran

  • Bagikan
ILUSTRASI: Guru (tengah) memberikan materi pelajaran kepada murid saat uji coba pembelajaran tatap muka di SD Negeri Kenari 08, Jakarta, belum lama ini. (ANTARA/JOGLO JATENG)

JAKARTA, Joglo Jateng – Pemerhati pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji mengatakan guru harus memiliki kompetensi pembelajaran campuran. Menurutnya, hal tersebut sangat diperluakan pada pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

“PTM terbatas tidak akan berjalan seperti PTM pada 2019 lalu. Mengapa? karena hanya terbatas. Guru dituntut mengajar melalui dua model pembelajaran atau pembelajaran campuran yakni tatap muka dan daring,” ujar Indra dalam peluncuran Gerakan Guru Cerdas di Jakarta, kemarin.

Indra menjelaskan persoalannya adalah kompetensi guru. Pada saat pelaksanaan pembelajaran daring secara penuh pun, kata dia, masih ada kendala, karena guru tidak dibekali dengan kompetensi yang memadai.

“Apalagi ini dilakukan dengan dua model pembelajaran sekaligus. Saya sudah memberikan masukan pada pemerintah bagaimana seharusnya tetapi belum ada langkah nyata,” kata dia.

Baca juga:  Tetap Lanjutkan Uji Coba PTM, Meskipun Ada Guru SMP yang Positif Covid-19

Oleh karena itu, pihaknya meluncurkan Gerakan Guru Cerdas yang membekali guru dengan kompetensi pembelajaran campuran. Pelatihan tersebut diberikan selama tiga bulan lamanya dan diperuntukkan bagi seluruh guru di DKI Jakarta.

“Untuk tahap awal akan dilakukan di DKI Jakarta terlebih dahulu, jika sukses maka akan berlanjut ke daerah-daerah lain,” jelas dia.

Indra menambahkan selama pendidikan jarak jauh (PJJ) berlangsung, pihaknya berhasil mentransformasi banyak sekolah untuk mengimplementasikan pembelajaran dengan paradigma baru. Sehingga ancaman hilangnya kesempatan belajar diubah menjadi keuntungan pembelajaran.

“Sudah banyak buktinya, sekarang tinggal bagaimana diduplikasi secara terstruktur, masif, dan sistematis di satu provinsi yang kebetulan tidak ada kendala dengan jaringan,” terang Indra. (ara/git)

  • Bagikan