Guru Harus Jadi Contoh Pembudayaan Prokes

  • Bagikan
guru di MAN Pemalang
KHUSYUK: Beberapa siswa yang sedang memperhatikan pembelajaran yang sedang dijelaskan oleh guru di MAN Pemalang, Minggu (11/2). (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

PEMALANG – Uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) sudah berjalan satu minggu di Kabupaten Pemalang. Meskipun berjalan lancar, budaya menerapkan protokol kesehatan (prokes) harus tercipta di lingkungan sekolah. Oleh sebab itu, guru diminta menjadi teladan bagi muridnya dalam menerapkan prokes tersebut.

Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemalang Ani Khasanah mengatakan bahwa PTM bukan hanya sekedar uji coba. Namun sekaligus pemudayaan kebiasaan terhadap protokol kesehatan di lingkungan sekolah. Menurutnya, pembudayaan kebiasaan baru ini harus dilakukan oleh guru terlebih dahulu. Ia menyadari bahwa hal ini sulit karena mengajar dengan menggunakan masker dan pelindung muka itu merepotkan, apalagi untuk guru yang sudah berumur.

“Untuk PTM ini tugas berat bagi guru untuk menjadi contoh bagi para siswanya agar selalu mematuhi protocol kesehatan, bayangkan saja jika guru itu tidak muda lagi pasti lebih sulit untuk berbicara dengan menggunakan masker tapi hal ini haru tetap dipatuhi untuk menjadi sebuah kebiasaan nantinya,” tuturnya saat ditemui di kantornya, kemarin.

Ani menjelaskan, kebiasaan ini bisa terwujud ketika ada kejasama dari guru untuk selalu mematuhi protokol kesehatan. Menurutnya, walaupun sulit di awal, namun ketika guru bisa memberikan contoh yang baik maka para siswa pasti mengiutinya. Karena apa yang guru lakukan pasti akan ditiru oleh siswanya. Begitu juga ketika guru tidak menerapkan protokol kesehatan pasti siswa akan mengikuti perilaku dan kebiasaan guru di sekolah.

Baca juga:  Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Dorong Guru Miliki Kompetensi Campuran

“Semoga ini para guru bisa menjadi contoh yang baik untuk para siswanya agar selalu menjaga protokol kesehatan baik. Saat mengajar maupun saat di kantor mereka tetap memakai masker dan menjaga jarak,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah MAN Pemalang Baedowi mengakui saat mengajar ia merasa sulit harus menggunakan masker dan pelindung muka. Ia mengatakan, perbedaan saat mengajar biasa lebih mudah menjelaskan ke siswa karena lebih jelas dan tidak susah bernafas. Tapi jika menggunakan masker, harus ekstra tenaga berbicara lebih lantang. Namun demi mensukseskan PTM, pihaknya mengikuti anjuran dari pemerintah karena tatap muka di sekolah sangat dirindukan baik para siswa dan guru sendiri.

“Mau tidak mau saya saat menerangkan bahkan di kantor harus tetap mematuhi protokol 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Sebab, siswa pasti akan mencontoh saya sebagai guru. Ini juga demi melancarkan agar nantinya PTM akan terus bisa dilangsungkan kedepannya, karena guru dan siswa sudah jenuh pemelajaran dirumah,” kata Baedowi. (cr8/gih)

  • Bagikan