Kembangkan PAUD Berwawasan Damai dan Kesetaraan

  • Bagikan
PAUD Joglo
MELINGKAR: Anak belajar dengan metode melingkar dan saling mendengarkan cerita satu sama lain di PAUD Joglo, belum lama ini. (ACHWAN A./JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng Sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berada di Muktiharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati mengembangkan kurikulum yang berbeda dari lainnya. Kelompok belajar nonformal yang dinamai “Joglo” tersebut menerapkan aktifitas belajarnya dengan wawasan damai dan kesetaraan.

Nanik, Kepala PAUD Joglo mengatakan, lembaganya merupakan bagian dari program pendidikan Rumah Damai Pati. Dalam prakteknya kelompok belajar pra-sekolah ini menekankan pentingnya berdamai dengan diri sendiri dan toleran kepada anak didiknya. Dengan ketenteraman batin, karakter anak akan terbentuk dengan baik.

“Kami berpegang pada keyakinan bahwa setiap anak memiliki kelebihan. Mereka membutuhkan apresiasi, ketenteraman dari lingkungannya untuk berkembang. Intinya kami menerapkan model pembelajaran yang memanusiakan manusia,” terangnya kepada Joglo Jateng, belum lama ini.

Ia menjelaskan, mayoritas anak di Indonesia tak mampu berkembang potensinya secara optimal akibat pembatasan dan tekanan psikologis di sekolah maupun keluarga. “Di sini kami juga menangani anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara. Kami tidak bedakan dengan yang normal. Kami berasumsi setiap anak baik dan mampu,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan banyaknya kasus keterlambatan bicara (speech delay) tidak disebabkan karena persoalan medis atau genetis. Namun karena trauma dan penindasan simbolik yang terjadi dalam lingkungannya.

Baca juga:  Perpusnas Jalin Kerja Sama dengan Perpustakaan Kazakhstan

Menurutnya, perlakuan kepada anak yang kerap dianggap lebih bodoh, selalu keliru dan  berposisi rendah ketimbang orang dewasa mempengaruhi perkembangan mental dan psikologisnya. Akibatnya potensi yang besar dalam diri setiap anak tak mampu muncul alih-alih berkembang.

“Setiap anak terlahir istimewa. Di sini guru menjadi teman belajar anak, bukan tukang perintah atau berposisi lebih pintar. Diperlakukan setara, menjalankan tugas bersama-sama sebagai rekan belajar. Dengan model ini anak akan mengenali dirinya sendiri dan tumbuh percaya diri,” ujarnya.

Dalam kegiatan belajarnya PAUD Joglo menjauhi kebiasaan memberi perintah untuk mengarahkan anak. Namun melakukan refleksi dengan mengajak berkomunikasi anak secara perlahan dengan bahasa sederhana yang mampu mereka pahami.

“Tidak ada pesuruh atau yang disuruh disini. Anak diajak untuk mengenali apa kata hatinya, apa perannya. Mereka terbiasa saling mengapresiasi satu sama lain. Mengakui keberadaan satu sama lain. Punya kesempatan yang sama dalam semua hal,” pungkasnya. (cr4/gih)

  • Bagikan