Dialog Milenial Ansor Dihadiri Mantan Teroris

  • Bagikan
Pengurus PC GP Ansor Kota Semarang
Pengurus PC GP Ansor Kota Semarang dan Komunitas Bernada berfoto bersama usai kegiatan. (ISTIMEWA / JOGLO JATENG)

SEMARANG  – PC GP Ansor Kota Semarang dan komunitas Bernada (Bersama Bina Damai) mengadakan dialog interaktif bersama siswa-siswi SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA dengan tema “Gerakan Generasi Milenial Anti Hoax dan Radikalisme” di aula Balaikota Semarang pada Rabu Sore (28/4/2021).

Dalam kegiatan itu dihadiri kurang lebih 50 orang baik peserta maupun panitia, sehingga sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan.

Pada kesempatan itu hadir, Sri Puji sebagai narasumber. Dia adalah seorang mantan terpidana terorisme yang pernah divonis penjara dua kali akibat keterlibatannya dalam menyembunyikan gembong teroris Noordin M Top (2005) dan juga penyembunyian Abu Thalut (2010) di Semarang.

Sri puji menyampaikan bahwa pada saat dia pertama kali memasuki dunia terorisme, jauh sebelum itu pada tahun 1992 dia sudah tertarik dengan ajaran Islam yang menurutnya telah memberikan wawasan akhlak dan syari’at.

Sebagai catatan, keluarga besar Sri Puji sebenarnya berlatar belakang Marhaenis Nasionalis yang seharusnya sulit dipengaruhi ajaran Radikal.

“Tapi memang saya tertarik dengan banyak mengikuti kegiatan di Masjid, tapi kegiatannya tertutup tidak boleh diganggu orang luar,” ujar Sri Puji.

Sri Puji bahkan sempat berguru pada seorang Murabbi di Majalengka yang di saat itulah Sri Puji mulai menentang ideologi pancasila yang dianggapnya sesat.

Baca juga:  Pesantren Berperan Penting Tangkal Radikalisme

“Di sana (Majalengka) saya benar-benar dicuci otak untuk membenci pancasila dan menyalahkan orang lain yang berbeda dengan saya,” tukas Sri Puji.

Saat ini Sri Puji beraktivitas di Yayasan Persadani (Persaudaraan Anak Negeri) yang menaungi para mantan Napi teroris agar kembali kepada pancasila dan NKRI. Di Yayasan tersebut Sri Puji duduk sebagai Wakil ketua.

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Kota Semarang, Rahul Saiful Bahri mengajak pada peserta yang masih berusia remaja dan pelajaran untuk membangun kecintaannya kepada negara dan mulai berani menolak paham-paham radikalisme.

“Saat ini kita sudah belajar bagaimana caranya mengidentifikasi ideologi-ideologi Radikal itu, bila kita melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh pak Sri, jangan ragu-ragu untuk ditolak,” tutupnya. (gih/rds)

  • Bagikan