Prostitusi Daring, Libatkan 11 Anak

  • Bagikan
Kapolsek Baruga, Polres Kendari, Polda Sultra, AKP Gusti Komang Sulastra,
PERIKSA: Kapolsek Baruga, Polres Kendari, Polda Sultra, AKP Gusti Komang Sulastra, saat ditemui awak meda, belum lama ini. (ANTARA/JOGLO JATENG)

KENDARI, Joglo Jateng – Polisi telah memeriksa 9 orang terkait keterlibatan kasus yang melibatkan 11 anak perempuan. Diantaranya masih berstatus pelajar yang sebelumnya diamankan dari sebuah hotel. Diduga terlibat kasus prostitusi daring (online) via MiChat, di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) Baruga AKP Gusti Komang Sulastra mengatakan, sudah ada 9 orang yang diperiksa. Meski demikian, Gusti menegaskan, pihaknya belum bisa menyebutkan nama yang telah diperiksa terkait kasus tersebut.

“Dari 9 orang, kemungkinan masih akan bertambah orang yang akan kami periksa. Kami terus memburu orang-orang yang telah terlibat pada kasus itu,” ujarnya.

Hingga hari ini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Gusti menegaskan, pihaknya terus mencari bukti-bukti agar bisa menetapkan tersangka.

“Kami masih terus berupaya mencari bukti-bukti yang menguatkan (untuk menetapkan tersangka),” tambah AKP Gusti Komang Sulastra menegaskan.

Sebelumnya, Polisi dari Polsek Baruga saat melakukan Operasi Pekat (penyakit masyarakat) pada Selasa 6 April lalu, mengamankan 11 orang anak perempuan di kamar hotel DDNS. Terletak di Jalan Budi Utomo, Kelurahan Mataiwoi, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari. Mereka diduga sedang menunggu pria hidung belang.

Baca juga:  Kutuk Terorisme!

Ke-11 anak tersebut diantaranya TT (17) status pelajar asal Kota Kendari, EL (17) status pelajar asal Kendari, AA (18) status pelajar asal Kabupaten Kolaka, DO (17) bukan pelajar asal Kendari, A (17) pelajar asal Kendari.

Berikutnya, NW (20) bukan pelajar asal Kendari, H (20) bukan pelajar asal Kabupaten Konawe Kepulauan, EF (20) bukan pelajar asal Kendari, WA (21) bukan pelajar asal Kendari, WD (18) bukan pelajar asal Kendari, dan TJ (19) bukan pelajar asal Kendari.

Dari hasil pemeriksaan 11 anak tersebut, dua diantaranya inisial TT (17) dan AA (18) kepada penyidik mengaku, pemilik hotel inisial AR pernah menawarkan untuk melayani warga negara asing (WNA) asal China. Mereka kemudian diberikan Rp500 oleh pemilik hotel. (ara/zul)

  • Bagikan