ICE Institute Mungkinkan Kolaborasi Mahasiswa Lintas Daerah

  • Bagikan
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti) (ANTARA/JOGLO JATENG)

JAKARTA, Joglo Jateng – Keberadaan Indonesia Cyber Education Institute (ICE Institute) memungkinkan terjadinya kolaborasi mahasiswa lintas daerah terwujud. Hal ini dapat mewujudkan prediksi oleh pakar ekonomi jika Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor lima dunia.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti) Nizam mengatakan Dengan menggunakan ICE Institute, kolaborasi mahasiswa lintas daerah maupun lintas provinsi dapat terjadi. Selain itu, kolaborasi dosen pun juga dapat terwujud.

“Dengan segala upaya menghadirkan PJJ yang canggih sehingga menjadi satu kesatuan. Tidak hanya pengetahuan, tetapi juga keterampilan teknis dan keterampilan nonteknis bagi mahasiswa,” katanya kemarin.

Dia mengakui, pembelajaran daring saja yang diselenggarakan perguruan tinggi belum cukup sebagai alat atau media untuk mengasah kompetensi mahasiswa. Untuk mewujudkan pendidikan bagi semua dan meningkatkan kompetensi mahasiswa, maka perlu gotong royong atau kerja sama antar perguruan tinggi.

Baca juga:  Berani Keluar dari Zona Nyaman

“Misalnya bagaimana perguruan tinggi di pelosok bisa mendapatkan pelajaran dari para profesor. Itu dapat dilakukan perguruan tinggi bersangkutan melalui ICE Institute,” imbuhnya.

Nizam menambahkan pemerataan akses pendidikan tinggi harus dapat ditingkatkan, agar dapat memanfaatkan bonus demografi. Korea Selatan saat bonus demografi di negara itu terjadi, sebanyak 60 persen angkatan kerjanya adalah lulusan perguruan tinggi.

Maka karena itu, dengan ICE Institute semakin luas dan dapat menjangkau masyarakat dimanapun berada. Melalui ICE institute tersedia akses penuh pada sumber belajar yang bisa diakses mahasiswa.

“Saya berharap semangat berkolaborasi, bergotong royong menjadi modal kita ke depan. Tanpa kolaborasi, hanya akan menciptakan kompetensi yang tidak sehat. Tanpa sinergi maka akan sangat sulit mewujudkan SDM unggul,” tuturnya.(ara/akh)

  • Bagikan