LP2K Minta Perbaiki Pola Layanan , Masyarakat Diimbau Taat Prokes

  • Bagikan
program vaksinasi
SUASANA: Warga mengantre untuk mengikuti program vaksinasi di depan Gedung Gradhika Bhakti Praja Pemprov Jateng, Semarang, Rabu (9/6). (DICKRI TIFANI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Untuk mendapatkan vaksin, warga datang berbondong-bondong sejak pagi mengantre di depan Gedung Gradhika Bhakti Praja Pemprov Jateng, kemarin. Tingginya minat vaksinasi itu, menyebabkan masyarakat abai terhadap protokol kesehatan sehingga menimbulkan kerumunan.

Dengan adanya kejadian tersebut, petugas gabungan terpaksa membubarkan kerumunan warga. Hal itu dilakukan untuk antisipasi terjadinya klaster baru Covid-19.

Kasi Tibum Satpol PP Provinsi Jawa Tengah, Priharto Adi mengakui terjadinya kerumunan di depan kantor pusat Pemerintah Jateng itu. Sejak pukul 06.00 masyarakat sudah mengantre Padahal, program vaksinasi tersebut akan berlangsung sampai bulan Desember nanti.

“Satpol PP sudah memberikan himbauan mengatur masyarakat, namun ketika kita atur masyarakat tak mematuhi dan akhirnya terpaksa kita bubarkan karena terjadi kerumunan di depan gerbang Pemprov,” kata Priharto, kemarin siang.

Priharto menuturkan, masyarakat diminta bersabar dan tak perlu buru-buru untuk mendapatkan jatah vaksin. Sebab, ada sekitar 800 sampai 1000 vaksin per hari yang diprioritaskan masyarakat umum. “Kita melihat pada siang hari ini antrean tidak ada dan lancar-lancar saja. Artinya, masyarakat tidak perlu antre pagi-pagi sekali, tidak perlu. Insyallah semua dapat,” ungkapnya.

Terjadinya kerumunan warga yang berebut jatah vaksin, kata dia, sekitar pukul 08.45 pagi. Bahkan, ada warga yang menunggu sebelum pintu gerbang Pemprov Jateng dibuka. “Ada sekitar 300 lebih warga yang datang ke Gradhika. Mereka sudah mengantre sejak pagi sebelum pintu gerbang dibuka,” terangnya.

Ia menjelaskan, untuk mengantisipasi kembali terjadinya kerumunan, akan dilakukan sistem buka tutup. Teknisnya, jika masyarakat sudah masuk di halaman Gradhika akan dipersilahkan  duduk di tempat yang sudah tersedia. Apabila di dalam sudah penuh, petugas menutup gerbang dan jika sudah longgar akan membuka kembali gerbang tersebut.

“Kita besok antisipasi dan atur, agar pintu gerbang sementara ditutup dulu. Kita masuk satu per satu untuk dipersilahkan duduk di kursi yang tersedia. Kursi ini sudah penuh, kita tutup gerbang lagi. Jadi lebih tertib besok,” katanya.

Pihaknya mengharapkan kepada masyarakat agar bisa memanfaatkan program yang sudah diberikan oleh Pemprov Jateng yang berkaitan dengan vaksinasi.

“Masyarakat lebih tertib, artinya tidak perlu berdesak-desak berebut, karena setiap hari sudah dialokasikan. Selain itu, masyarakat juga mau mengikuti petunjuk petugas. Sehingga antrean itu berjarak. Ingat kita masih dalam suasana Covid-19 dan harus mematuhi protokol kesehatan. Jangan sampai ada klaster baru,” pungkasnya.

Baca juga:  13 Ribu Mahasiswa Baru Undip Dikukuhkan

Semntara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, program vaksinasi umum tersebut diprioritaskan untuk usia 50 tahun ke atas. Ia pun turut mengimbau agar warga yang antre tidak bergerombol.

“Prioritaskan yang di atas 50 tahun. Kalau yang di bawah 50 tahun tanpa mengantar yang senior kita tolak. Silahkan. Kita prioritas yang di atas 50 tahun dulu. Ayo antre-antre, jangan bergerombol. Saya mohon kesadaran panjenengan. Masuknya antre, tidak boleh rebutan,” ucap nya.

Ganjar menyebutkan, pengaturan vaksinasi sebenarnya mudah. Petugas sudah berpengalaman saat menggelar vaksinasi massal untuk petugas publik. “Kita pernah melakukan itu kok, tinggal diatur saja. Mungkin tadi teman-teman tidak siap ketika mereka (warga) datang sebelum buka. Itu yang mesti diperhatikan oleh semuanya,” ucapnya.

Terlepas dari itu, Ganjar memastikan akan ada evaluasi pada pelaksanaan Sentra Vaksinasi Grhadhika, terutama pada pendaftaran yang mungkin bisa dilakukan secara online. Dia berharap percepatan vaksinasi terhadap lansia tetap bisa berjalan dengan baik.

“(Perbaikan?) ya harus, harus. (Pendaftarannya) bisa juga sebenarnya mendaftar dari data yang sudah ada secara online. Tapi kita itu kan mau percepatan, khususnya kepada yang lansia. Maka yang lansia kita minta untuk bisa dirangsang agar bisa cepat, dan para pengantar juga bisa mendorong agar para lansianya bisa hadir,” tandasnya.

Di sisi lain, Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah juga menyoroti peristiwa itu. Ketua Bidang Pengabdian dan Pelayanan Masyarakat LP2K Jateng Abdul Mufid menilai, pelaksanaan program vaksinasi tersebut terkesan amburadul sehingga terjadi antrean panjang, kerumunan dan berdesak-desakan.

Menurut Mufid, kejadian tersebut sangat riskan terjadi penularan Covid-19. Walaupun, lanjut dia, niat pemerintah baik dalam melakukan vaksinasi. “Bisa menjadi bumerang, jika sitem pelayanannya tidak baik masyarakat yang akan mengakses membuat tidak terlindungi dan berpotensi menjadi klaster baru,” ujarnya.

Ia menambahkan, apalagi di Kota Semarang saat ini di beberapa kecamatan dalam zona merah. Dirinya menyarankan agar dihentikan dulu dan diperbaiki pola pelayanan sehingga tidak terjadi antrean panjang. “Kedepan bisa dilakukan pendaftaran online dulu dengan dibatasi kuotanya perhari sesuai kapasitas yang paling aman,” ucapnya.

Mufid juga memberikan solusi lain agar kerumunan bias dihindari. Ia menyarankan pemberian vaksin dilakukan di daerah-daerah untuk mengantisipasi penularan Covid-19. “Alangkah baiknya, jika ada slot vaksinasi gratis bisa dikerjakan dengan daerah-daerah sehingga tidak terpusat,” katanya. (cr11/gih)

  • Bagikan