29 Santri Diberi Pelatihan Pengolahan Kopi

  • Bagikan
peracikan kopi dalam pelatihan yang dilakukan oleh Dinindagkop UKM Rembang
BELAJAR: Sejumlah santri saat menyaksikan secara seksama prosesi peracikan kopi dalam pelatihan yang dilakukan oleh Dinindagkop UKM Rembang, Kamis (10/6). (SHOFWAN ZAIM / JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Sebanyak 29 santri dari berbagai pesantren diberi pelatihan pengolahan kopi oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan UKM (Dinindagkop UKM) Kabupaten Rembang. Kegiatan tersebut akan berlangsung selama 4 hari bertempat di Gedung Hemat.

Kemarin, kegiatan tersebut memasuki hari ketiga dengan materi pelatihan proses pembuatan kopi kekinian ala coffee shop. Dinindagkop menggandeng beberapa barista profesional di Kabupaten Rembang untuk menjadi pendamping pelatihan.

Sementara itu pada pertemuan sebelumnya sudah dilakukan pemaparan terkait dengan manajemen wirausaha dah manajemen pemasaran. Selanjutnya para santri tersebut juga akan diajarkan praktik pengolahan kopi secara tradisional.

Ida Hayu selaku Kabid Koperasi Dinindagkop UKM Rembang menjelaskan, untuk sementara segmentasi pelatihan memang baru difokuskan pada pengolahan kopi. Menurutnya, minat masyarakat Rembang terhadap kopi terbilang sangat tinggi.

Terlebih lagi menurutnya, belakangan populasi kedai kopi kekinian/coffe shop semakin menjamur. Oleh karena itu, para santri disiapkan agar kelak setelah keluar dari pesantren soft skill dalam pengolahan kopi bisa diaplikasikan untuk bersaing di pasar kerja.

Baca juga:  Pentas Seni di Kabupaten Rembang Kembali Diperbolehkan

“Kenapa santri? Karena santri ini bisa jadi wirausahawan baru, setelah lulus pondok nanti bisa membuka lapangan kerja baru. Nanti terserah mereka mau usaha di kopi modern atau kopi tradisional,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Rembang, Hanies Cholil Barro’ menyampaikan apresiasinya terhadap pihak penyelenggara dan para santri yang terlibat. Ia berharap dengan mengikuti kegiatan ini, pengetahuan para santri tentang dunia kopi semakin bertambah dan soft skillnya lebih terasah.

Lebih dari itu, ia berharap bekal tersebut nantinya bisa diaplikasikan para santri saat memasuki dunia kerja. “Ini tentu sejalan dengan program pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran,” pungkasnya. (cr6/fat)

  • Bagikan