Pedagang Pasar Pagi Pemalang Khawatirkan Efek Penerapan PPN

Pasar Pagi Pemalang
JUAL BELI: Aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Pemalang tampak sepi pembeli, Minggu (13/6). (UFAN FAUDHIL / JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglojateng.com – Rencana pemerintah pusat mengajukan revisi Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), yang membuat sembako menjadi dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kebijakan yang keluar di saat ekonomi belum stabil mengundang pertanyaan dari pedagang.

Sutrisno salah satu pedagang sembako di Pasar Pagi Pemalang mengatakan, keputusan pemerintah untuk mengajukan RUU ini seharusnya tidak dilakukan sekarang. Sebab, kondisi perekonomian yang belum stabil akibat pandemi Covid-19 belum juga teratasi.

“Apa pemerintah tidak melihat bahwa perekonomian masyarakat sekarang kesulitan juga masih naik turun belum stabil,” katanya Minggu (13/6).

Baca juga:  Bupati Mansur: Rehabilitasi Narkoba Jadi Hal Serius

Ia mengungkapkan, Covid-19 menyebabkan penghasilannya perlahan terus menurun, terlebih lagi saat angka penderita akibat virus tersebut semakin bertambah. Ketakutan masyarakat terhadap penyebaran Covid-19 menjadikan pembeli yang mengunjungi pasar berkurang.

“Sekarang malah masyarakat waspada karena kasus positif sedang naik-naiknya dan bisa dilihat pasar sepi jadi kami merugi,” sambungnya.

Hal serupa juga di ungkapkan oleh Aris, pedagang telur banyak merugi dan kesulitan menggaji karyawannya. Sebelum adanya Covid-19, tiap hari raya pasti kesulitan melayani pembeli, namun sekarang untuk menjual pun susah dan banyak telur busuk ataupun pecah.

Baca juga:  Harso Susilo Dilantik sebagai Kepala Disdukcapil Pemalang

“Bisa dilihat seperti ini lah, belum ada perkembangan banyak karyawan pun sudah saya beri pengertian jika pembayaran gaji dikurangi sedikit,” ungkapnya.

Aris dan para pedagang berharap kepada pemerintah pusat agar mengupayakan penanganan pandemi lebih dulu dibandingkan pengajuan RUU KUP ini. Sebab, ia takut jika itu diperlakukan nantinya harga barang dagangan pasti naik, serta memicu daya beli masyarakar menurun akhirnya pedagang banyak merugi.(cr8/akh)