Vaksin tak Membuat Swab Jadi Positif

  • Bagikan
melakukan proses skrining sebelum vaksinasi Covid-19 di RS Mardi Rahayu Kudus
SKRINING: Salah satu warga tengah melakukan proses skrining sebelum vaksinasi Covid-19 di RS Mardi Rahayu Kudus, Rabu (16/6). Insert: PIC Informasi Covid-19 RS Mardi Rahayu dr Yuliana Wara. (SYAMSUL HADI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Banyak perkataan yang muncul di masyarakat jika menjalani vaksinasi Covid-19, nanti pada saat tes swab antigen atau swab PCR justru menjadikan hasil positif. Namun, pernyataan tersebut bisa dikatakan hoax dan tidak benar terjadi.

PIC Informasi Covid-19 Rumah Sakit Mardi Rahayu (RSMR) dr Yuliana Wara mengatakan, rumor yang beredar di masyarakat tersebut sangatlah tidak benar atau hoax. Pasalnya, Indonesia memakai vaksin yang isinya adalah virus yang sudah diinaktifasi atau dimatikan.

“Vaksin itu isinya virus yang sudah dimatikan. Sehingga tidak mungkin menyebabkan infeksi. Yang terjadi kepada seseorang yang menerima vaksin adalah ditubuhnya terbentuk antibody,” ucapnya, kemarin.

Karena vaksin itu tidak bisa menyebabkan infeksi, lanjutnya. Kalau dilakukan tes swab antigen atau swab PCR yang bertujuan mendeteksi adanya infeksi, pasti hasilnya tidak akan positif. Tetapi jika yang dilakukan tes rapid antibodi maka tes nya hasilnya reaktif. Sebab, dalam tubuhnya sudah membentuk antibodi.

“Jika seseorang sudah divaksin, berarti kan sudah membentuk antibodi. Itu jika di tes rapid antibodi dalam tujuan mendeteksi antibodi maka hasilnya positif. Tapi itu malah bagus, karena kekebalan tubuhnya ada,” terangnya.

Misalnya ada kejadian setelah divaksinasi, namun selang beberapa hari menjalani tes swab antigen atau PCR hasilnya positif atau reaktif, itu ada dua kemungkinan. Pertama, bisa jadi sebelum divaksinasi sudah terinfeksi tapi tanpa gejala. Sehingga tidak sadar atau belum keluar gejalanya pada saat itu, atau memang tidak tahu. Jadi tidak karena vaksinasi.

Baca juga:  Pemdes di Kudus Wajib Umumkan Calon Penerima Bansos

“Kemungkinan yang kedua, itu bisa terjadi juga memang terinfeksi setelah divaksin. Jadi sehabis divaksin, kadar antibodi nya belum optimal jadi terpapar kena virusnya, sehingga terinfeksi. Tapi sekali lagi bukan karena vaksinnya,” jelasnya.

dr Yuliana mengimbau kepada masyarakat, agar tidak takut menjalani vaksinasi. Apalagi pada saat ini vaksinasi sudah berjalan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) rumah sakit, puskesmas semua menjalankan program vaksinasi. Tidak hanya lansia saja, umum mulai dari usia minimal 18 tahun ke atas.

“Tidak usah takut divaksin, harus berani divaksin. Apalagi Kudus kondisinya saat ini seperti ini. Juga jangan lupa untuk selalu mematuhi protokol kesehatan 5M. Tetaplah memakai masker meskipun di rumah. Sebab kita tidak tahu apakah saudara atau teman kita itu membawa virus dan berbicara dengan kita, itu bisa menimbulkan penularan,” pungkasnya. (sam/fat)

 

 

  • Bagikan