Siapkan Antisipasi Bencana Hidrometeorologi

  • Bagikan
BANJIR: Tangkapan layar video banjir di Dusun Cirokol RT 03 RW 02, Desa Brebeg, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Kamis (14/9). (ANTARA/ JOGLO JATENG)

CILACAP, Joglo Jateng – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap menyiapkan sejumlah antisipasi dalam menghadapi musim penghujan. Satu diantaranya dengan mengantisipasi kemungkinan bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah, khususnya wilayah rawan banjir dan longsor.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Wijonardi mengungkapkan, musim penghujan yang datang lebih awal membuat pihaknya mengambil beberapa langkah antisipasi. Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi adanya kemungkinan bencana hidrometeorologi.

“Kami sudah melakukan pemberitahuan kepada para camat untuk segera mengingatkan masyarakat terhadap akan segera datangnya musim hujan yang jauh lebih awal dibanding tahun-tahun sebelumnya. Itu sesuai dengan rilis BMKG termasuk ancaman bencana hidrometeorologi,” kata Wijonardi, Kamis (14/9).

Berdasarkan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG tersebut, Wijonardi bahkan meminta para camat untuk menyiagakan material maupun personel di desa-desa. Salah satunya dengan menyiapkan perahu karet di sejumlah desa yang rawan banjir, seperti di wilayah Sidareja dan sekitar yang rutin terjadi banjir.

“Kami sudah cek persiapannya dan UPT (Unit Pelaksana Teknis) kami yang di Sidareja juga sudah dicek kesiapsiagaannya termasuk peralatannya. Perahu karet yang kurang sehat, ada yang bocor kayak di Majenang, sudah kami tarik ke sini (BPBD Cilacap, red.) untuk diperbaiki,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, pada Kamis (16/9) terjadi banjir di Desa Brebeg, Kecamatan Jeruklegi. Akibatnya, sejumlah rumah warga terendam banjir dan akses jalan sempat terputus. Ia menyebut, pihaknya masih mempelajari kondisi banjir di desa tersebut.

“Rencananya kami mau ke sana untuk mengecek guna mendengarkan informasi dari Pak Kadesnya. Kalau itu sudah rutin, banyak orang beranggapan pendangkalan sungai yang jadi alasan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Wijonardi mengatakan sungai secara alami akan menerima guguran tanah pertanian dan material lain di wilayah hulu, yang kemudian akan terbawa aliran air. Kemudian sesampainya di hilir, seperti daerah Brebeg, akan terjadi endapan atau sedimentasi. Menurut dia, penggalian atau normalisasi aliran sungai dari sedimentasi hanyalah upaya agar tidak terjadi pendangkalan.

Baca juga:  Musim Kemarau, Air Bersih Disalurkan

“Aliran air tentunya menuju ke daerah rendah. Kalau tahu itu daerahnya rendah, dibangun rumah tidak sesuai dengan standar elevasi air tertinggi, mau sampai kapan tetap terendam rumahnya, logis kan itu,” katanya.

Oleh karena itu, dia memerintahkan Kepala Desa Brebeg untuk segera memasang patok penanda elevasi air. Sehingga ketinggian air dapat diketahui setiap kali terjadi banjir. Elevasi air tertinggi ini akan dijadikan dasar untuk memberikan arahan kepada masyarakat yang akan membangun rumah. Dengan ini, masyarakat tidak perlu mengungsi karena rumah mereka tidak terendam air.

“Masyarakat yang mau membangun rumah, pondasinya harus di atas batas elevasi air tertinggi itu. Kalau itu diikuti, mereka tidak akan terendam air ketika terjadi banjir yang mencapai batas tertinggi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wijonardi mengaku akan terus mengedukasi warga agar bisa belajar dari pengalaman dalam menghadapi banjir. Termasuk bagi mereka yang bermukim di daerah rawan longsor.

Terpisah, Kepala Desa Brebeg, Achmad Zaenudin mengatakan, banjir yang melanda Dusun Cirokol RT 03 RW 02, Desa Brebeg, pada Kamis (16/9) pagi disebabkan luapan air dari Sungai Cirokol. Sungai ini diketahui telah mengalami pendangkalan.

Ia mengungkapkan bahwa banjir tersebut mengakibatkan ruas jalan utama yang menghubungkan Desa Jerulklegi Kulon dan Desa Brebeg tidak bisa dilewati selama lebih kurang satu jam. “Sebanyak lima rumah warga terendam banjir,” demikian Zaenudin. (ara/erna)

 

  • Bagikan