2 Abad, Kopi Muria Tetap Jadi Idola

  • Bagikan
Muhammad Ridlo
PETIK MERAH: Muhammad Ridlo, saat memanen biji kopi di kebun miliknya Desa Colo, Kecamatan. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Kopi muria dalam sejarahnya sudah sejak 1799 berada di Kabupaten Kudus. Oleh karena itu, banyak warga di wilayah Kecamatan Dawe dan Kecamatan Gebog yang terjun sebagai petani kopi.

Seperti Muhammad Ridlo (33), salah satu warga Desa Colo, Kecamatan Dawe. Ia terjun sebagai petani sekaligus produsen kopi sejak 2019. Dengan membawa nama Kopi Muria Zayna, hasil yang didapatkan dari kebun kopinya sendiri.

Ada empat varian kopi robusta muria yang ia garap sehari-hari untuk dijual ke kedai atau coffeshop. Yaitu robusta dengan sistem proses natural, full wash, honey, dan wine. Tak terkecuali juga, menyediakan kopi untuk dijual kepada orang umum.

Dalam memanen kopi, Ridlo selalu menerapkan sistem full petik merah untuk menghasilkan kualitas kopi yang bagus. Sekaligus, dirinya seringkali mengikuti pelatihan-pelatihan yang ada sangkut pautnya dengan kopi.

“Dalam memetik, menjemur, dan proses-proses lainnya tidak asal-asalan. Karena itu mempengaruhi hasil atau kualitas yang nanti didapatkan. Meskipun memang membutuhkan kesabaran lebih,” tuturnya.

Ridlo juga merincikan, proses perjalanan kopi dari panen hingga ke tahap roasting. Tahap awal setelah dilakukan panen, dirinya melakukan perambangan kopi terlebih dahulu. Kemudian, dilakukan penjemuran yang berbeda dari setiap empat varian tersebut.

“Awal dicuci dan ditimbang untuk menghasilkan kopi yang tidak ada isinya atau rusak. Setelah itu, dilakukan penjemuran dengan model penjemuran berbeda-beda di setiap varian. Seperti natural yang langsung dijemur, full wash digiling basah dulu baru dijemur, honey dikupas kulitnya digiling basah baru dijemur, dan wine proses fermentasi,” rincinya.

Setelah hampir dua hingga tiga minggu dilakukan penjemuran, kopi memasuki tahap penggilingan. Yakni melepaskan kulit kopi dan bijinya. Kemudian, setelah membentuk biji kopi, baru dilakukan penyortiran. Untuk membedakan ukuran dan kerusakan dari biji kopi itu sendiri.

“Lalu, setelah penyortiran selesai, baru masuk ke tahap roasting. Yaitu proses menyangrai atau memasak kopi sebelum dikemas menjadi suatu produk yang siap dijual,” ujarnya.

Baca juga:  Hasil Panen Kopi Muria Menurun

Sementara itu untuk wilayah, hingga kini masih ada dua wilayah yang masih tetap aktif memproduksi kopi sejak 1799. Daerah tersebut mencakup Desa Japan dan Desa Colo, Kecamatan Dawe. Ditambah adanya pelebaran di tahun 1830 di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog.

Salah satu pegiat kopi di Kudus, Islakhul Muttaqin menceritakan, Desa Japan dan Desa Colo, Kecamatan Dawe, menjadi kawasan tertua mengenai budaya tanam kopi di Kudus. Kemudian baru disusul dengan agenda pelebaran di Desa Ternadi, Kecamatan Dawe, Desa Menawan, dan Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog.

Kopi Muria yang terkenal dengan robustanya, saat pertama kali adanya tanam kopi justru ditanami jenis arabika. Namun, karena adanya hama yang menyerang akhirnya diganti dengan jenis liberika.

“Baru sekitar tahun 1907 ada agenda penanaman kopi jenis robusta secara masif dari Kabupaten Jember ke sini. Makanya kenapa di Kudus sendiri terkenalnya robusta sampai saat ini. Ya dari adanya ekspansi penanaman secara masif untuk mengganti basis arabika dan liberika,” jelasnya.

Islakh melanjutkan, untuk perbandingan robusta dan arabika sendiri sangat jauh sekali. Dari data yang dimilikinya, ada total 800an hektare penanaman kopi secara keseluruhan, hanya ada 50an hektare lahan jenis arabika di Kudus. Jika dipersentasekan 90 persen lebih banyak robusta.

“Bisa dikatakan minim banget, paling banyak di Desa Rahtawu kalau arabikanya. Di Desa Colo ada, cuman sedikit. Karena basic arabika sendiri harus ditanam di ketinggian minimal 1000 MDPL, sedangkan Kudus hanya 700-900an MDPL. Jadi kurang cocok,” tuturnya.

Dengan adanya perkebunan kopi di dua kecamatan tersebut, menjadikan kopi sebagai denyut nadi perekonomian masyarakat desa setempat dari awal hingga sekarang. Dari mayoritas masyarakat sendiri memang banyak yang menjadi petani kopi.

“Kopi muria sendiri itu sempat tenar di 2011, adanya buzzer dari Swiss. Tapi entah bagaimana kelanjutannya tidak jadi. Kemudian, antara 2018-2019 itu baru dikenal dan gencar-gencarnya kopi muria melalui festival dan pameran,” pungkasnya. (sam/fat)

  • Bagikan