Demak  

Telat Bayar Arisan, Nyaris Kebacok

Balai Desa Tlogopandogan
DIALOG: Proses mediasi mempertemukan ES dan Ibu Ng di Balai Desa Tlogopandogan, belum lama ini. (ISTIMEWA / JOGLO JATENG)

DEMAK, Joglo Jateng – Diduga sering telat membayarkan uang hasil arisan, ES (38) diancam dengan senjata tajam oleh peserta arisan Ibu Ng (49). Kejadian ini terjadi di Desa Tlogopandean, Kecamatan Gajah.

Kepala Desa Tlogopanden, Gajah, Mohamad Sodiq menjelaskan, persoalan bermula ketika arisan yang diikuti 65 orang warga sering terjadi keterlambatan pembayaran uang hasil arisan oleh ketua arisan, ES. Arisan sendiri sudah berjalan lebih dari 2 tahun.

Pada saat pembukaan arisan, Rabu (01/12) lalu, Ibu Ng mendapat jatah arisan sebesar 5,6 juta rupiah. Akan tetapi oleh ES, hanya dibayarkan sebesar 5 juta rupiah. Sementara yang 600 ribu akan dibayar nanti jika sudah ada uang. Sehingga membuat Ibu yang bekerja sebagai petani ini naik pitam.

Baca juga:  Tingkatkan Kemampuan Personil dengan Latihan Menembak

Karena merasa dipermainkan dan dirugikan, Ibu Ng mendatangi kediaman ES dengan membawa senjata tajam dan mengancam akan membunuh ES, jika tidak segera membayar kekurangan uang arisan tersebut.

Dirasa jawaban ES berbelit dan rasa emosi yang tinggi, Ibu Ng menyabetkan senjata tajamnya ke kasur milik ES, hingga sobek. Merasa tak terima dengan ancaman Ibu Ng, ES melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Gajah.

Sebab itu, pihak Pemerintah Desa (Pemdes) bersama Babinsa Koramil 07/Gajah Kodim 0716/Demak Serda Muhammad dan Bhabinkamtibmas Aipda Raju Sulton berupaya mendamaikan permasalahan ini, agar dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Mediasi dilakukan dengan mempertemukan ES dan Ibu Ng di Balai Desa Tlogopandogan, belum lama ini.

Baca juga:  Ribuan Pantarlih Demak Diterjunkan Jelang Pilkada 2024

“Kita upayakan untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Kita pertemukan mereka disini, agar ada kesepakatan,” terangnya.

Sementara, Babinsa Koramil 07/Gajah Kodim 0716/Demak, Serda Muhammad mengharapkan agar kejadian tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Mengingat mereka masih bertetangga, masih satu kampung Dukuh Pandogan, hanya beda RT saja.

“Harapan saya selaku Babinsa, pak Kades dan pak Bhabinkamtibmas, masalah ini diselesaikan secara damai. Tidak usah dilanjut ke proses hukum, karena masih bertetangga. Tolong saling menghargai, tidak enak nanti ke belakangnya, malah ada dendam yang berkepanjangan,” harapnya.

Baca juga:  KPU Demak Terjunkan Ribuan Petugas Temui Masyarakat yang tak Miliki Identitas Kependudukan

Akan tetapi, lanjutnya, mediasi yang dipelopori pemdes dan pihaknya ini tidak membuahkan hasil. ES tetap akan melanjutkan permasalahan ke jalur hukum, dan meminta ganti rugi sebesar 50 juta rupiah. “Mediasi belum membuahkan hasil dan pelapor, tetap dibawa ke jalur hukum,” ujarnya. (aji/gih)