Pandemi: Menjaga Lingkungan Hidup melalui Sekolah

Oleh: Teguh Iskandar, S.Pd.
Guru Geografi SMAN 1 Mijen, Kab. Demak

HAMPIR dua tahun pandemi Covid-19 telah melanda dunia. Bumi seolah berduka, sendi-sendi kehidupan luluh lantak hingga jutaan nyawa turut menjadi korban keganasannya. Belum ada yang tahu batas berakhirnya. Kita sebagai manusia hanya mampu menghadapinya dengan berpola hidup sehat dan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan segala peraturannya, termasuk Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Berbicara tentang pola hidup sehat, tidak terlepas dari kondisi lingkungan yang baik. Lingkungan sehat turut berkontribusi dalam menunjang kesuksesan meminimalisasi terjangkitnya Covid-19. Pembelajaran Tatap Muka (PTM) saat ini menjadi momok bagi para orang tua/ wali peserta didik. Mereka khawatir jika putra putrinya terjangkit virus mematikan ini saat menuntut ilmu di sekolah.

Mengatasi permasalahan ini, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik adalah mengajarkan sekaligus membiasakan anak didiknya untuk selalu menjaga lingkungan hidup dan kebersihan diri.  Di SMA Negeri 1 Mijen, penulis selaku Guru Geografi menerapkan bentuk-bentuk upaya menjaga lingkungan hidup berbasis Sekolah Adiwiyata terhadap peserta didiknya. Hal ini sesuai dengan penghargaan yang diraih oleh SMA Negeri 1 Mijen yang ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi pada Tahun 2019.

Di dalam pelaksanaannya, penulis selalu membudayakan lingkungan sehat. Dimulai ketika menjelang pelajaran dimulai meminta peserta didik untuk memeriksa keadaan sekitarnya. Jika ditemukan sampah, memerintahkannya untuk membuang sesuai kategorinya, organik atau anorganik. Selepas itu memakai hand sanitizer. Di sela-sela pembelajaran, guru memberikan nasihat-nasihat tentang pentingnya lingkungan hidup.

Bukan hanya itu, guru secara rutin mengingatkan pentingnya tanaman dalam ekosistem lingkungan yang saat ini cenderung tak seimbang. Banyak tanaman atau lahan kosong yang dirampas hanya untuk kepentingan perseorangan. Akibatnya, banyak binatang yang kehilangan tempat tinggal dan mencari tempat baru yang tak jarang ke area pemukiman. Hal ini pun sesuai dengan kondisi lingkungan SMA Negeri 1 Mijen yang berdampingan secara langsung dengan area persawahan dan pabrik. Sebelum PTM berjalan dan sekolah kosong karena pembelajaran dalam jaringan (daring) dilaksanakan, ruangan kelas menjadi sarang burung. Padahal, awalnya habitat mereka adalah area persawahan di sekitar sekolah.

Oleh karena itu, guru meminta peserta didiknya untuk tak merusak tanaman yang ada. Mengajak untuk merawatnya. Bahkan, kalau diperlukan membawa tanaman untuk ditanam di sekolah agar udara bertambah sejuk. Jika tanaman banyak, maka udara pun segar dan bersih. Dampaknya, sirkulasi udara di dalam ruangan pun terjaga dan meminimalisasi penularan Covid-19.

Pandemi menyebabkan kantin sekolah tak boleh dibuka. Oleh karena itu, guru menghimbau peserta didiknya untuk membawa bekal dari rumah. Namun, himbauan tersebut dipertegas dengan meminimalisasi penggunaan plastik dan kertas. Peserta didik disarankan untuk membawa bekalnya dalam kotak nasi dan botol minumannya. Hal ini sejalan dengan Adiwiyata yang  bertujuan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik.

Selain itu, di dalam pelaksanaan pemberian tugas, ulangan harian, hingga ulangan harian bersama (tengah dan akhir semester), kertas sudah tak digunakan lagi. Sekolah dan guru mata pelajaran menerapkan penilaian berbasis teknologi menggunakan platform belajar online seperti Google Classroom atau Google Form. Selain paperless tentunya juga sangat mendukung program pemerintah untuk memutus mata rantai Covid-19, khususnya di klaster sekolah.

Pandemi memang belum terkendali. Namun kita bisa mawas diri dengan selalu menjaga lingkungan dan kebersihannya. Tentunya tidak instan. Butuh pembiasaan secara berkelanjutan. Inilah tantangan pandemi bagi guru dan sekolah untuk membudayakan peduli lingkungan pada peserta didiknya yang merupakan generasi penerus bangsa. Semua pihak harus bergandengan tangan dalam menghadapi kondisi saat ini. Mari jaga kesehatan, jaga lingkungan untuk kehidupan yang lebih baik, sekarang dan nanti. Mari perlahan pulihkan bumi kita! (*)