Respon Cepat, Dinkes Temui Solikul Mursidin

PERIKSA: Tim dari Dinas Kesehatn Rembang melakukan pemeriksaan kepada Solikul Mursidin di kediamannya, Senin (7/3). (HUMAS/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten Rembang menerjunkan tim dari Dinas Kesehatan untuk menemui Solikul Mursidin, Senin (7/3). Solikul sendiri diketahui hidup hanya memiliki sebagian tempurung kepala.

Tim yang menemui Solikul yakni Kabid Pelayanan Kesehatan (Yankes) Muslikhah, dokter Fitria Anggraini dari RSUD dr Soetrasno. Kemudian Koordinator Home Care RSUD Ali Gufron serta Kepala Puskesmas Sedan dr. Arif Rahman Hakim.

Kurang lebih 30 menit mereka berbincang dengan Solikul di dalam rumahnya yang berada di RT 2 RW 2 Desa Kedungringin Kecamatan Sedan itu. dr Fitria dan Ali Gufron melakukan pemeriksaan medis kepada pemuda 29 tahun itu.

Baca juga:  Jumlah ASN di Rembang Terancam Berkurang di 2024

“Kondisinya stabil, tadi Pak Arif (Kepala Puskesmas setempat, Red) juga meriksa. Aktivitas juga bisa, memang ada kekhawatiran dari pasien jika beraktivitas keluar,” ujar dr Fitria anggraini.

dr Fitria menambahkan hasil dari kunjungan tersebut akan dilaporkan ke pimpinan RSUD dan akan dikoordinasikan dengan tenaga medis yang nantinya terlibat. Harapannya bisa mempermudah kepentingan administrasinya.

“Biaya yang dikeluhkan, BPJS Ketenagakerjaan pasien tidak punya, untuk pengaktifan BPJS kesehatan juga butuh waktu , jadi memakai sumber dana lain, ” ungkapnya.

Sementara itu Solikul mengaku bersyukur dan berterimakasih atas respon cepat dan bantuan dari Bupati dan Pemkab Rembang. Dia berharap segera bisa dioperasi. “Pengennya bisa segera dioperasi dan bisa beraktivitas seperti semula. Saget medamel maleh (bisa kerja lagi, Red),” ungkapnya.

Baca juga:  Rembang Terima Dana Desa Rp 243 Miliar

Solikul mengalami kecelakaan saat bekerja sebagai karyawan koperasi pada November 2021 lalu. Akibatnya pria tiga bersaudara itu harus menjalani oprasi untuk membersihkan gumpalan darah yang ada di kepalanya. Pembersihan gumpalan darah itu harus melalui pembukaan tempurung kepala.

Untuk memasang sebagian tempurung kepala harus dilakukan tahapan operasi. Selanjutnya harusnya dijadwalkan pada tanggal 1 Maret lalu, dengan perkiraan biaya minimal Rp 25 juta. Karena kesulitan biaya, operasipun tidak bisa dilakukan.

Dengan kondisi tempurung kepala yang tidak normal, Ia pun akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaannya. Hal itu dikarenakan kekhawatiran terjadi benturan saat bekerja. “Saran dokter dulu harus berhati-hati jangan sampai kena benturan,” pungkasnya. (hms/fat)