Kurikulum Merdeka, Upaya Penguatan Karakter Peserta Didik di Masa Pandemi

Oleh: Makhfud Khundhori, S. Pd.
Guru Matematika SMA Negeri 1 Mijen, Kab. Demak

PENDIDIKAN merupakan suatu wadah untuk mengembangkan potensi seorang anak baik dalam aspek sikap, kognitif, maupun psikomotorik. Di dalam UU N0. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional diketahui bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis. Hal ini berarti pendidikan tidak hanya mencetak manusia yang pandai akademik, tetapi juga membentuk anak menjadi pribadi berkarakter terpuji dan sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat berbudaya.

Namun, kenyataannya saat ini di tengah masyarakat Indonesia telah terjadi perubahan yang memprihatinkan. Khususnya di kalangan remaja. Budaya sabar, ramah, santun berubah menjadi pemarah, tak beretika, suka mencaci, hingga pendendam. Hal inilah yang banyak dijumpai di sekolah-sekolah, khususnya jenjang SMA, tahap anak mencari jati diri. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan karakter untuk mengatasi pergeseran moral tersebut. Salah satunya dengan Kurikulum Merdeka atau yang dikenal dengan Kurikulum Prototipe.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kurikulum Merdeka atau Kurikulum Prototipe merupakan kurikulum berbasis kompetensi untuk mendukung pemulihan pembelajaran berbasis proyek untuk mendukung pengembangan karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (Rahmawati, 2022).  Penerapan kurikulum ini pada awalnya memang menimbulkan pro dan kontra. Namun, setelah dipelajari lebih dalam, kurikulum ini menjadi jawaban kegelisahan para guru dalam menangani sikap dan perilaku peserta didik. Pandemi menyebabkan anak seolah antisosial, tidak bertanggung jawab dengan tupoksinya sebagai seorang pelajar. Misalnya, tidak mengikuti pembelajaran daring hingga tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Hal semacam inilah yang dijumpai oleh penulis selaku guru di SMA Negeri 1 Mijen. Bahkan, dijumpai anak-anak yang kurang sopan, baik dalam bersikap maupun berperilaku. Oleh karena itu, muatan Pancasila sangat relevan dengan dunia pendidikan Indonesia saat ini.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Di dalam pelaksanaanya kurikulum ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar melalui pengalamannya dalam bersosialisasi, toleransi, saling menjaga, hingga mengintegrasikannya dengan kompetensi esensial dari pelbagai pelajaran sesuai nilai-nilai Pancasila melalui pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini pun secara tidak langsung akan menanamkan karakter luhur bangsa dan tentunya akan membantu guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Bukan hanya itu, penilaian pun juga akan lebih mudah, bisa bekerja sama dengan guru mapel lain.

Pembelajaran yang tidak hanya bertumpu pada target materi menjadi nilai lebih dalam kurikulum ini. Pembelajaran yang ditetapkan di dalamnya yaitu pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) yang menitikberatkan pada materi penting saja. Akibatnya, pembelajaran akan berlangsung dengan lebih menyenangkan, potensi peserta didik dapat tergali dengan mengurangi dampak loss learning sebagai akibat pandemi yang terus berlanjut sampai saat ini.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kurikulum ini memang terbilang baru dan membutuhkan pelbagai hal untuk pelaksanaannya nanti. Saat ini pemerintah memberikan opsi kepada satuan pendidikan untuk menentukan kurikulum yang akan diterapkan. Namun, rencananya Kurikulum Merdeka atau Kurikulum Prototipe akan dilaksanakan secara nasional pada tahun 2024. Akibatnya, mau tidak mau harus dilaksanakan secara bertahap oleh satuan pendidikan agar tidak kaget dengan aturan dan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan kurikulum ini. Meski Kurikulum di Indonesia terbilang bergonta-ganti, sebagai seorang pendidik tak perlu bingung atau bahkan berkeluh kesah, tetapi harus mampu menyikapinya dengan bijak. Mari persiapkan diri menjadi pendidik tangguh untuk mewujudkan generasi Indonesia Emas yang unggul dan berkarakter. (*)