Sanggar Kecik, Wadah Bemain dan Belajar Anak

  • Bagikan
ARAHKAN: Para anggota dan penggagas Sanggar Kecik melakukan “Jetis Walking Tour”, salah satu kegiatan yang diminati anak-anak, belum lama ini. (ISTIMEWA / JOGLO JOGJA)

Sanggar sebagai wadah bermaina bagi anak tentunya memberikan manfaat yang sangat banyak. Salah satunya Sanggar Kacik, yang berada di Jetis, Tirtomartani, Kalasan. Selain sebagai sarana belajara anak, juga sebagai kontrol pergaulan anak.

SLEMAN, Joglo Jogja – Berawal dari problematika yang ada di masyarakat, seperti kasus kehamilan di luar nikah, geng klitih dan sebagainya. Maka diperlukan salah satu upaya untuk mengatasinya. Sanggar Kecik, menjadi salah satu sanggar sebagai wadah bagi anak-anak untuk menyalurkan hal-hal positif, bermain sambil belajar pun dilakukan.

Disdik Sleman

Annisa Khansa, salah satu pemuda pemudi Garuda Muda Berkarya (GBM) Jetis, Tirtomartani, Kalasan, Sleman sekaligus salah satu penggagas sanggar kecik menjelaskan, bahwa kegiatan ini sudah lama dilakukan. Namun, baru mulai terbentuk polanya pada Oktober 2018.

Annisa Khansa menambahkan, mulanya dilakukan format taman baca untuk anak-anak. Namun karena sumber daya manusia yang tidak mampu mengawasi dan menjaga perpustakaan setiap harinya, ditambah banyak anak-anak yang pulang sekolah hingga sore, maka cara tersebut dirasa kurang efektif.

“Setelah berjalan kurang lebih lima tahun, akhirnya kita menemukan polanya. Karena setiap harinya kami juga bekerja. Jadi dilakukan sebulan sekali, biasanya pada hari minggu,” ucapnya Minggu (8/5).

Ia menyebut, uantuk tema dilakukan secara insidental. Bahkan, pihaknya sering memenuhi permintaan anak-anak di sanggarnya.

“Request dari anak-anak. Kita sifatnya fasilitator bukan kita yang menentukan semuanya,” katanya.

Masyarakat sangat antusias dengan adanya sanggar ini. Baik dari kalangan anak-anak maupun orang tua. Terbukti, dari banyaknya anak-anak yang mengikuti kegiatan ini. Begitupun para orang tua yang membantu memfasilitasi tempat, konsumsi hingga dekorasi.

“Orang tua merasa bahwa anak-anak saat mengikuti sanggar ini lebih bermanfaat, dari pada bermain diluar. Mereka senang dan memandang desa itu keren, bisa buat acara yang skalanya bisa mengundang 100 anak,” tuturnya.

Pendirian sanggar ini berjutuan untuk menampung dan menyalurkan hal-hal positif pada anak. selain itu juga mengawasi pergaulan anak, sehingga dapat terkontrol.

“Ternyata anak-anak itu energinya besar, ketika tidak ada wadah untuk menampung akhirnya mereka main ke luar dan tidak terkontrol. Kita juga memperhatikan prinsip Ki Hajar Dewantara, dimana pengasuhan atau pendidikan itu kewajibannya diampu oleh tiga elemen. Keluarga, masyarakat dan instansi formal seperti sekolah,” jelasnya.

Penamaan Sanggar Kecik diambil dari semi base camp tempat anak-anak sering bermain, yang terdapat banyak pohon sawo. Dimana biji sawo tersebut dinamakan kecik. Sehingga dinamakan Sanggar Kecik.

“Salah satu impian kami adalah memiliki base camp sebdiri. Sehingga bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Karena selama ini berpindah-pindah di rumah warga,” jelasnya. (ers/bid)

  • Bagikan