Gayeng, Belajar sambil Bermain dengan Make A Match

Oleh: Kustyaningsih 
Guru Administrasi Umum SMK Negeri 1 Pati

SEORANG guru dituntut untuk selalu mengembangkan diri, tidak terkecuali cara menyampaikan berbagai materi ke siswa. Bagaimana caranya agar siswa itu merasa senang dalam belajar. Tidak luput dari hal itu, saya selaku guru di SMK Negeri 1 Pati yang mengampu mata pelajaran Administrasi Umum juga berusaha bagaimana caranya supaya siswa tersebut merasa senang belajar dengan saya.

Selamat Idulfitri 2024

Pelajaran administrasi umum diberikan di kelas X Akuntansi, yang mana pelajaran tersebut tergolong baru bagi siswa SMK. Salah satu kompetensi dasar pengetahuan yang ada di mata pelajaran tersebut adalah “memilih peralatan kantor dalam kegiatan administrasi”. Sedangkan, kompetensi dasar keterampilan adalah “menggunakan peralatan kantor dalam kegiatan administrasi”. Dengan demikian, siswa harus paham macam-macam jenis peralatan yang biasa dipakai di kantor yang menunjang terselesainya pekerjaan kantor khususnya di bidang administrasi, khususnya peralatan yang digunakan untuk menyimpan berkas-berkas (arsip).

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Ternyata, peralatan yang digunakan di kantor-kantor yang banyak jenisnya dapat dikelompok-kelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu peralatan kantor yang habis pakai, yang dikenal dengan istilah perlengkapan dan peralatan kantor yang tidak habis pakai, yang kita kenal dengan istilah peralatan. Adapun jenis perlengkapan yang dipakai di kantor banyak macamnya. Di antaranya ada kertas, tinta, blangko surat, dan lain-lain barang yang habis sekali pakai.

Sedangkan, jenis peralatan yang digunakan di kantor juga banyak jenisnya, sehingga masih dipilah-pilah lagi ke dalam sub kelompok, yaitu perabot kantor, peralatan kantor, mesin-mesin kantor, pesawat kantor, interior kantor, serta alat bantu peraga. Untuk memudahkan mentransfer ilmu tentang hal tersebut saya menggunakan metode make a match. Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Lorn Currant (Aqib, 2013: 23).

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Gambaran dari model ini adalah mencari pasangan. Prosesnya yakni guru menyiapkan gambar-gambar berbagai peralatan kantor di satu sisi. Sedangkan, di sisi lain guru juga menyiapkan nama-nama dari gambar peralatan kantor. Satu lagi yang dibuat guru, yaitu membuat nama dari golongan gambar-gambar yang ada. Kemudian dari keduanya saling mencari, mana gambarnya dan mana nama dari gambar tersebut. Setelah ketemu, kemudian mengelompok lagi sesuai dengan golongannya, apakah termasuk ke dalam golongan perlengkapan atau perabot, atau mesin kantor, dan seterusnya dan seterusnya.

Awalnya memang siswa bingung, mau mulai darimana untuk mencari solusi dari pemecahan masalahnya, karena tidak menemukan pasangannya. Setelah mendapat gambaran, maka siswa asyik menjalankan perannya masing-masing sampai menemukan pasangan antara gambar dengan nama dari gambar yang dibawa yang kemudian setelah ketemu, langsung mengelompok ke dalam satu komunitas dari nama-nama alat kantor yang sedemikian banyaknya.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Setelah tahu nama alat kantor dan berkelompok, siswa diberikan gambaran tentang kegunaan dari alat tersebut dengan cara tanya jawab untuk alat-alat yang belum diketahui fungsinya. Tanpa terasa waktu yang sudah disediakan sesuai jam pelajaran ternyata sangat singkat, akan tetapi siswa puas dengan hasil belajar yang sekaligus dapat dijadikan sebagai ajang bermain. Dengan demikian belajar bukan lagi hal yang menjemukan, tetapi sangat mengasyikkan. (*)