Memahami Peran Anggota Keluarga dengan Role Playing

Oleh: Widiyowati, S.Pd.
Guru SDN 02 Pedurungan, Kec. Taman, Kab. Pemalang

BUKAN hal yang mudah melaksanakan pembelajaran dengan alokasi waktu yang terbatas. Tidak hanya waktu belajar, tetapi juga media pembelajaran, dan metode atau model yang diterapkan. Pendampingan oleh orang tua saat pembelajaran di rumah, tidak menjamin tercapainya kompetensi dasar tertentu. Di kelas I SDN 02 Pedurungan Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, pada pembelajaran dengan kompetensi memahami peran anggota keluarga, guru menggunakan metode pembelajaran role playing.

Selamat Idulfitri 2024

Bermain peran atau role playing adalah berakting sesuai dengan peran yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk tujuan-tujuan tertentu. Bermain peran dapat menciptakan situasi belajar yang berdasarkan pada pengalaman dan menekankan dimensi tempat dan waktu sebagai bagian dari materi pelajaran, Wahab (2009).

Di dalam role playing, terdapat perilaku pura-pura (berakting) dari siswa sesuai dengan peran yang telah ditentukan. Siswa menirukan situasi dari tokoh-tokoh sedemikian rupa dengan tujuan mendramatisasikan dan mengekspresikan tingkah laku, ungkapan, gerak-gerik seseorang dalam hubungan sosial antar manusia. Role playing melakukan pengalaman belajar secara langsung, seperti kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterpretasikan suatu kejadian.

Role playing  penekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Siswa diperlakukan sebagai subjek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Praktik pembelajaran role playing tidak hanya dilakukan di dalam kelas, melainkan dalam di area terbuka yang masih berada di lingkungan sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan dalam pengawasan dan pendam.

Role playing dalam proses pembelajaran bertujuan agar siswa dapat mendramatisasikan tingkah laku, atau ungkapan gerak-gerik wajah seseorang dalam hubungan sosial atau manusia. Menurut Saefuddin dan Berdiati (2014), metode pembelajaran bermain peran memiliki tujuan memberikan pengalaman konkret dari apa yang telah dipelajari, mengilustrasikan prinsip-prinsip dari materi pembelajaran., menumbuhkan kepekaan terhadap masalah-masalah hubungan sosial, menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa, dan menyediakan sarana untuk mengekspresikan perasaan yang tersembunyi di balik suatu keinginan.

Role playing memiliki kelebihan dan kekurangan pada penerapannya. Kelebihan atau metode bermain peran antara lain: 1) dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa, sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan membuat kelas menjadi dinamis dan antusias; 2) membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan; 3) siswa dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan dibahas dalam proses belajar.

Adapun kelemahan dari metode ini sebagai berikut. 1) Memerlukan waktu yang relatif panjang; 2) memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun siswa; 3) kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerankan suatu adegan tertentu; 4) apabila pelaksanaan role playing atau bermain peran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pembelajaran tidak tercapai; 5) tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.

Semua metode pembelajaran pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, kelemahan tersebut setidaknya dapat diminimalisir dengan menonjolkan kelebihannya, dan terbukti dalam penerapannya metode role playing dalam pembelajaran memahami peran anggota keluarga dapat meningkatkan hasil belajar dan pengalaman yang mengesankan bagi siswa. (*)