Flipped Classroom Mudahkan Siswa Belajar Perubahan Energi

Oleh: Siti Muawanah, S.Pd.
Guru SDN 02 Pedurungan, Kec. Taman, Kab. Pemalang

SALAH satu muatan pelajaran yang digemari dan menarik minat siswa kelas 4 SD Negeri 02 Pedurungan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang adalah Ilmu Pengetahuan Alam, terutama pada kompetensi mendeskripsikan perubahan energi. Keterbatasan waktu di saat penerapan pembelajaran tatap muka terbatas, tidak mengurangi antusiasme siswa dalam mempelajari perubahan energi. Pada kompetensi ini, guru menggunakan model pembelajaran flipped classroom (kelas dibalik). Model pembelajaran ini belum begitu familiar diterapkan di tingkat sekolah dasar. Namun, penulis mencoba menerapkannya di kelas 4 dengan harapan mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Selamat Idulfitri 2024

Flipped classroom adalah bentuk pembelajaran campuran dimana siswa belajar materi baru di rumah dan yang dulunya pekerjaan rumah sekarang dilakukan di kelas dengan bimbingan guru dan interaksi dengan siswa, bukannya mengajar. Hasil kerja siswa didiskusikan dan dipresentasikan, Walsh (2016: 348).

Penerapan pembelajaran dengan model ini dilakukan guru dengan skenario pembelajaran sebagai berikut. a) Guru membagi siswa menjadi 2 kelompok besar. Kelompok 1 akan melakukan pembelajaran tatap muka di periode pertama dan pembelajaran daring di periode selanjutnya, sementara Kelompok 2 akan melakukan pembelajaran daring di periode pertama dan pembelajaran tatap muka di periode selanjutnya. b) Guru membagi materi ajar menjadi 2 kategori. Kategori A adalah materi yang dapat dipelajari siswa secara mandiri dan Kategori B yang perlu dipandu/didiskusikan dengan guru dan teman sebaya.

Kemudian, c) untuk siswa Kelompok 1, periode pertama digunakan untuk pembelajaran tatap muka berfokus pada materi Kategori B yang lebih menekankan pada diskusi dan aktivitas pembelajaran yang dipandu oleh guru. Setelah itu, pada periode selanjutnya saat siswa belajar di rumah, guru dapat melakukan pembelajaran daring yang menekankan pada materi Kategori A.

Selanjutnya, d) untuk siswa Kelompok 2, periode pertama digunakan untuk pembelajaran daring berfokus pada materi  kategori A yang lebih menekankan aktivitas penugasan mandiri yang dapat dilakukan siswa dari rumah. Setelah itu, pada periode selanjutnya saat siswa belajar tatap muka, guru dapat berfokus pada materi Kategori B dengan mengadakan aktivitas diskusi dan pembelajaran aktif lainnya di dalam kelas. e) Guru memastikan dapat mengatur waktu dengan baik agar jam pembelajaran siswa kelompok 1 dan kelompok 2 tidak saling bertabrakan., f) guru melakukan refleksi secara berkala untuk mengecek pemahaman siswa serta umpan balik mengenai kendala ataupun kesulitan yang dihadapi siswa.

Jika dilakukan dengan persiapan yang matang oleh guru, model ini sangat efektif digunakan pada pemberlakuan sistem tatap muka terbatas di mana alokasi waktu tidak cukup untuk menyelesaikan kompetensi di dalam kurikulum. Guru harus benar-benar menguasai materi dan kelas, baik dalam kelas tatap muka maupun saat pembelajaran daring. Guru harus tetap membimbing siswa di dalam kelas dan di rumah secara online.

Kelemahan dari flipped classroom yaitu: a) sarana dan prasarana yang tidak menunjang. Tidak semua sekolah, guru, terlebih siswa memiliki sarana yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan metode flipped classroom, b) Berpotensi menjadi beban bagi guru karena selain harus mengurus administrasi serta menyiapkan rencana pembelajaran, guru juga harus membuat konten untuk diunggah ataupun menulis modul untuk dipelajari sebelumnya, c) memicu stress pada siswa, d) ekstra monitoring dan pendampingan. Kelemahan ini dapat diatasi dengan memaksimalkan kelebihan dan mempersiapkan materi sederhana yang tidak terlalu membebani siswa. (*)