Misi Ekodali, Faktor Penentu Pelajar Pedesaan Melanjutkan Pendidikan Perguruan Tinggi

Oleh: Darwati, S. Pd
Guru Ekonomi SMA Negeri 1 Mijen, Kab. Demak

PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah berkembang pesat. Hal ini menuntut manusia untuk selalu beradaptasi agar tidak tertinggal. Salah satunya yaitu belajar sepanjang hayat.

Selamat Idulfitri 2024

Di dalam mempersiapkan pembangunan ekonomi negara, perguruan tinggi menjadi salah satu solusinya. Markum (2017) menjelaskan bahwa pendidikan tinggi disiapkan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau profesional yang dapat menerapkan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi, dan kesenian. Namun, keberadaan perguruan tinggi saat ini rupanya tidak menjadi primadona bagi kalangan pelajar di pedesaan. Minat atau kuantitas pelajar dari pedesaan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi masih rendah.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis selaku guru di di SMA Negeri 1 Mijen yang notabene-nya merupakan sekolah di lingkungan pedesaan, diperoleh beberapa faktor yang memengaruhi peserta didik tidak melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi. Mereka lebih memilih untuk bekerja sebagai buruh pabrik, merantau, bertani, hingga menikah muda. Adapun faktor tersebut dalam tulisan ini disebut Misi Ekodali (Minat, Motivasi, Ekonomi Keluarga, Dukungan Orang Tua, Budaya, dan Lingkungan).

Minat (Mi), yaitu keinginan peserta didik untuk terus belajar sepanjang hayat. Semua bergantung pada minatnya, jika tidak memiliki minat maka peserta didik merasa cukup dengan hal yang telah ia peroleh di bangku sekolah menengah. Imbasnya, perguruan tinggi bukanlah tujuannya.

Faktor kedua, Motivasi (Si). Di dalam dunia pendidikan, motivasi berperan penting. Di sinilah peran utama seorang pendidik (guru) untuk selalu memotivasi peserta didiknya agar tetap semangat belajar dengan segala keterbatasan yang dimiliki demi masa depan yang lebih baik.

Faktor ketiga, Ekonomi Keluarga (Eko). Peserta didik di sekolah lingkungan pedesaan mayoritas berasal dari keluarga menengah ke bawah. Kondisi ekonomi membuat peserta didik merasa iba dengan orang tuanya jika harus membebani dengan biaya kuliah yang bagi mereka tidaklah murah meski beasiswa bisa diperoleh.

Dukungan Orang Tua (O) adalah faktor berikutnya. Mayoritas orang tua di pedesaan kurang mendukung anaknya untuk memiliki pendidikan tinggi. Bagi mereka, bisa sekolah di SMA sudah bagus untuk modal bekerja sebagai buruh pabrik di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu. Padahal, sebenarnya orang tua adalah kekuatan utama seorang anak untuk memiliki motivasi tinggi dalam mengubah nasib keluarga.

Selanjutnya yaitu Budaya (Da). Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi belum menjadi budaya masyarakat pedesaan. Hal tersebut masih menjadi istimewa. Hanya orang yang berada yang biasa mendapatkannya. Tak kalah menjadi sorotan adalah budaya menikah muda. Lingkungan pedesaan di sekitar SMA Negeri 1 Mijen masih membudayakan nikah muda. Hal ini secara tak langsung turut berpengaruh pada pola pikir anak dan menjadikan minat belajarnya menurun.

Adapun faktor terakhir yaitu Lingkungan (Li). Lingkungan merupakan tempat belajar yang baik bagi seorang individu, termasuk pola pikir. Lingkungan pedesaan di sekitar SMA Negeri 1 Mijen masih memiliki pola pikir yang kurang terbuka dan acuh terhadap pendidikan. Bagi mereka pendidikan hanya formalitas bukan kebutuhan. Secara tidak langsung, lingkungan akan mempengaruhi minat dan motivasi peserta didik dalam menentukan langkah untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.

Misi Ekodali merupakan hal yang harus diubah secara perlahan demi kelangsungan hidup anak bangsa. Butuh kerja sama dari berbagai pihak mulai dari orang tua, masyarakat, hingga guru dan sekolah untuk mengubah pola pikir-pola pikir yang menghambat kemajuan peserta didik. Semua harus bersinergi. Orang tua dan masyarakat harus mau membuka pola pikir dan mendukung anak-anaknya untuk memiliki nasib yang lebih baik darinya. Tidak instans, tetapi melalui pembiasaan.

Sementara itu, guru sebagai kaum intelektual yang berinteraksi langsung dengan peserta didik hendaknya selain mengajarkan kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai peserta didik, juga memberikan wejangan-wejangan membangkitkan minat dan  motivasi mereka. (*)