Media Audio Visual Mudahkan Pemahaman Siswa Materi Tradisi Islam Nusantara

Oleh: Rini Afiyati, S.Ag
Guru PAI SMPN 5 Pemalang

PERKEMBANGAN Islam di Nusantara dari masa ke masa menambah khazanah dan kekayaan budaya. Para mubaligh dan penyebar Islam telah berhasil menanamkan akidah Islamiyah di Nusantara. Hal ini sekaligus memunculkan dan menimbulkan budaya baru, baik itu budaya sebagai hasil pembauran dengan budaya sebelum Islam, maupun budaya yang lahir karena ada nilai-nilai Islam.

Tradisi Islam Nusantara muncul sebagai akibat dari ajaran Islam yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran Islam akan merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, sampai menjadi tradisi dan tata cara hidup.

Meningkatkan pemahaman tentang tradisi Islam Nusantara kepada siswa tidaklah mudah. Banyak guru menyampaikan materi yang jelas tanpa alat peraga, pada akhirnya pemahaman siswa kurang jelas. Hal ini terjadi pada siswa SMPN 5 Pemalang, khususnya kelas IX. Banyak siswa yang memperhatikan dan terlihat memahami materi yang disampaikan guru, tetapi pada akhir pembelajaran tidak mampu menjawab dengan benar, ketika siswa diberi pertanyaan. Melihat kondisi tersebut, guru mencoba mencari solusi untuk menyampaikan materi tradisi Islam di Nusantara dengan menggunakan media audio visual, untuk meningkatkan pemahaman pada siswa.

Tradisi Islam Nusantara merupakan sesuatu yang menggambarkan suatu tradisi Islam dari berbagai daerah, yang melambangkan kebudayaan Islam dari daerah yang ada di Nusantara. Tradisi Islam Nusantara merupakan tradisi yang masih di lakukan secara turun temurun oleh masyarakat di Nusantara. (13 Maret 2017) https://brainly.co.id.

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau penyalur. Menurut Yusuf Hadi Miarso seperti dikutip Rianarwati (2006 : 8), media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, dan kemampuan siswa, sehingga bisa mendorong terjadinya proses belajar pada siswa. Menurut Bruner (dalam Azhar Arsyad, 2009: 7), ada tiga tingkatan media belajar yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial atau gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic). Menurut Levil dan Levie (dalam Azhar Arsyat, 2009: 9), belajar melalui stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik melalui tugas-tugas seperti mengingat, menghubungkan antar fakta-fakta dan konsep, serta mengenali dan membandingkan dengan belajar melalui stimulus verbal saja.

Media audio visual adalah media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, red), meliputi media yang dapat dilihat dan didengar. Karakteristik media audio visual adalah memiliki unsur suara dan unsur gambar (Hermawan : 2007)

Dalam pembelajaran media audio visual untuk memahami tradisi Islam di Nusantara, guru menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan laptop, sound, kabel, dan video yang akan ditayangkan.
  2. Memperhatikan posisi tempat duduk peserta didik dalam keadaan nyaman.
  3. Pada saat akan mengajak peserta didik menyimak video, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan teknis pembelajaran.
  4. Kemudian peserta didik siap menyaksikan tayangan video.
  5. Siswa mencatat hal-hal yang diperlukan.

Setelah guru memberikan pembelajaran menggunakan media audio visual materi tradisi Islam Nusantara, siswa mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan guru dengan baik. Selain itu, siswa juga lebih terlihat aktif dalam mengikuti pembelajaran. Ketika kegiatan akhir guru memberikan evaluasi, siswa mampu mendapatkan nilai di atas KKM. (*)