Peran Mapel Ekonomi dalam Menanggulangi Daya Komsumtif di Kalangan Pelajar Milenial

Oleh: Darwati, S. Pd
Guru Ekonomi, SMA Negeri 1 Mijen

MANUSIA pada dasarnya adalah makhluk individu sekaligus sosial. Hal ini disebabkan, pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri dan akan terus mengalami sosialisasi melalui interaksi dengan orang lain dalam kesehariannya. Oleh karena itu, setiap individu akan saling memengaruhi berdasarkan faktor perilaku, keyakinan, hingga perasaan. Faktor-faktor tersebut yang kemudian memengaruhi gaya hidup seseorang.

Selamat Idulfitri 2024

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dijelaskan bahwa gaya hidup adalah cara mengekspresikan diri melalui aktivitas, minat, dan opini. Khususnya yang berkaitan dengan citra diri. Dalam perkembangannya, gaya hidup kini seolah bukan lagi menjadi halangan. Apa pun bisa dilihat dan ditirukan oleh masyarakat, melalui penawaran iklan yang dapat diakses melalui televisi atau gawai yang serba instan. Akibatnya, muncullah hedonisme di kalangan masyarakat. Salah satunya, di kalangan siswa sebagai generasi milenial.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Dalam menjalani kehidupannya, siswa sebagai generasi milenial yang melek digital tampaknya lebih memilih mengikuti tren, atau gaya hidup teman sebayanya. Hal ini disebabkan, sebagian besar interaksi yang terjadi adalah interaksi antar sesamanya. Pergaulan yang mereka jalani juga memiliki persamaan, yakni persamaan usia dan sosial. Kedua persamaan ini dapat memberikan dampak positif sekaligus negatif. Positifnya, mereka akan mengalai proses pembelajaran yang sama. Sementara dampak negatifnya yaitu terbentuknya perilaku konsumtif yang ugal-ugalan. Dikatakan ugal-ugalan karena berdasarkan pengamatan penulis selama melaksanakan tugas di tempat mengajar, ditemukan banyak persamaan barang, cara berpakaian (fashion, red), hingga selera makanan di kalangan siswa. Seolah-olah siklus pertemanan mengharuskan mereka mengikuti apa pun yang dimiliki oleh rekan sebayanya hanya agar merasa “sama”. Akibatnya, ada anak yang mulai berperilaku menyimpang seperti meminta apa pun kepada orang tuanya, tanpa memikirkan tingkat kemampuan ekonomi.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Sekolah sebagai lembaga pendidikan, seyogyanya hadir sebagai wadah yang tidak hanya mengembangkan kompetensi keilmuan, tetapi juga harus mengedukasi siswanya agar dapat belajar menyikapi perkembangan zaman, dengan tetap menempatkan life style sebagaimana mestinya. Di sinilah peran mata pelajaran Ekonomi. Selain memberikan ilmu-ilmu ekonomi, pembentukan karakter juga harus ditekankan. Salah satunya dengan mengajarkan prinsip ekonomi.

Prinsip ekonomi ada 10 hal, salah satunya yaitu berpikir rasional. Di dalam mengajarkan prinsip ini, hendaknya tidak hanya dilakukan melalui teori, tetapi juga praktik. Siswa diajak untuk berpikir rasional terkait gaya hidup yang mereka jalani. Selanjutnya, mereka diminta untuk memerinci hal-hal yang berkaitan dengan berpikir rasional dalam bidang ekonomi. Setelah itu, siswa diajak untuk berkelompok dan bermain peran “berpikir rasional dam dunia ekonomi”. Melalui praktik sederhana ini, diharapkan dapat membuka pikiran siswa terkait gaya hidup sekaligus meminimalkan daya konsumtifnya.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Gaya hidup seseorang memang tidak bisa dikendalikan, tetapi bisa diubah melalui pembiasaan. Dimulai dengan hal-hal sederhana, seperti tidak membeli sesuatu hanya karena ingin tetapi berdasarkan kebutuhan. Apabila hal sederhana ini dapat ditularkan kepada orang lain, maka akan tercipta pertemanan atau pembelajaran yang positif. (*)