Perjuangan di Balik Berdirinya Kampung Jawi

SUASANA: Seorang pedagang menjual kuliner khas di Kampung Jawi, antara lain segi berkat, gethuk, serta wedang kawi, belum lama ini. (DICKRI TIFANI BADI/ JOGLO JATENG)

Merubah stigma, menggerakkan massa, dan menyampaikan ide bukanlah hal yang mudah. Siswanto beberapa kali gagal. Tapi dia tidak menyerah.

DI Kota Semarang ada beberapa kampung tematik yang bisa ditemui di sudut kota. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menginisiasinya sebagai penambah daya tarik wisata dan meningkatkan perekonomian masyarakat di wilayah itu. Salah satunya adalah Kampung Jawi yang berlokasi di Kalialang Lama, RT 2 RW 01, Sukorejo, Kecamatan Gunung Pati.

Selamat Idulfitri 2024

Kampung yang berkonsep spot kuliner tradisional itu, tak tiba-tiba muncul. Ia berdiri melalui perjalanan panjang, sebelum dikenal dan ramai pengunjung seperti sekarang.

Ketua Pokdarwis Kampung Jawi, Siswanto mengatakan, sebelumnya menjadi kampung tematik, wilayah Kalialang memiliki stigma yang jelek. Misalnya, kemiskinan, longsor, kekeringan, hingga soal kriminalitas.

Dari stigma itu, warga dari luar kampung enggan datang ke Kalialang lantaran merasa ketakutan. Berangkat dari keresahan tersebut, Siswanto menginginkan kampung itu menjadi kampong tematik seperti inisiasi Pemkot. Kemudian, ia memiliki ide membuat Kalialang jadi spot kuliner berkonsep serba tradisional. Namun, kata dia, saat memiliki ide itu banyak warga yang tidak setuju terkait perencanaan pembangunan destinasi wisata kuliner di kampungnya.

“Saat itu, saya mensosialisasikan ide saya terkait kesenian dan budaya supaya menjadi sentra orang luar datang ke Kalialang. Karena dulu mindset-nya, kampung ini dikenal kekeringan, kemiskinan, longsor,  intinya enggak ada yang baik. Bahkan ketika ada kriminal, nama Kalialang pasti disebut. Tahun 2017, saya daftarkan Kalialang ini dijadikan kampung tematiknya Kota Semarang, yaitu Kampung Jawi,” jelas Siswanto, inisiator Kampung Jawi, saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.

Setelah didaftarkan, ia mulai mendapatkan sejumlah undangan dari dinas untuk mempromosikan gagasan kampung tematiknya. “Habis itu saya promosikan Kalialang merupakan Kampung Jawi, yaitu untuk menguri-nguri budaya Jawa, “ucapnya.

Ketika berpromosi di instansi maupun rekan dekatnya, Siswanto selalu membawa Kampung Jawi sebagai spot wisata kuliner tradisional. Namun di balik perjuangannya, ia harus rela melawati rintangan di lingkungan kampungnya. Pasalnya, Siswanto acap kali mendapatkan cibiran dari warganya.

“Saya selalu menyebar undangan kepada sebanyak 75-an lebih untuk menjelaskan konsep Kampung Jawi. Ayo pak le, pakde, mbah, bikin Kalialang nantinya seperti ini (konsep). Kalau kita bisa mewujudkan, njenengan saat usia pensiunan tidak bingung mencari kesibukan. Cukup merawat Kalialang saja dan menjadi Kampung Jawi di Kota Semarang, Insyallah ada penghasilan tambahan buat njenengan. Sehingga saat sosialisasi banyak warga yang pulang, manut karo wong edan (percaya sama orang gila) pernah dikatakan seperti itu,” ungkapnya.

Meski idenya tidak direspon warga, Siswanto kembali menyebar undangan kepada warga dengan jumlah yang sama, namun tidak semunya hadir dalam rapat. “Saya mencoba membangunkan kembali, saya bikin undangan lagi tetap disebar 75 lebih. Alhamdulilah, enggak ada 25 orang. Inilah orang-orang yang siap merubah wilayah,” tuturnya.

Siswanto saat itu mengajak warga untuk kerja bakti di lapangan yang direncanakan digunakan Kampung Jawi. Kali ini lebih parah, tidak banyak warga yang hadir bahkan hanya satu orang yang memberikan konfirmasi ketidakhadiran rapat.

“Itulah yang pernah alami sehingga saat itu istriku menangis, jenenge (namanya) mengumpulkan warga otomatis bertanggung jawab untuk menyiapkan konsumsi. Cuma yang konfirmasi hanya satu yakni wakil saya. Pak Punten, kulo mboten nderek (saya tidak ikut) rapat karena takziah saudara di Magelang. Masih saya catat dan Insyallah tidak akan lupa. Saat itu sms, yang lain enggak ada konfirmasi,” katanya.

Ia mengaku, tidak hanya warga saja yang menganggap dirinya orang gila, namun orang tuanya juga ikut mengolok-mengolok serupa. Sebab, mobil pemberian orang tuanya dijual oleh Siswanto untuk proses mendirikan Kampung Jawi.

“Ibuku juga bilang bahwa saya edan, karena marah gerobaknya (mobil) pemberian ibu dijual. Saat itu, sering bikin acara untuk mendirikan Kampung Jawi. Pada saat itu, ibuku nangis dan bilang bahwa saya edan karena mobilnya dijual,” jelasnya.

Tak pantang menyerah, Siswanto beberapa kali mengumpulkan warga dari anak-anak hingga remaja. Ia kembali mencoba pada tahun 2018 yakni mengajak ibu-ibu untuk membahas rencana idenya itu.

“Alhamdulilah tetap semangat, anak-anak sudah saya rangkul, remaja, saya mencoba tahun 2018  mengumpulkan khusus untuk ibu-ibu. Saat itu, saya bilang ibu njenengan sukanya masak dan jualan. Sesuk bikin acara, sesuk tak undang Pak Wali. Karena, dulu enggak ada pejabat pemerintahan mau ke Kalialang. Alhamduilah, ada Kampung Jawi Pak Wali datang tepatnya pada 25 Februari 2018. Kalau dulu, kedatangan Pak Wali hanya inisiasi Kampung Jawi saja. Tahun 2018, Pak Wali meresmikan Pasar Jaten,” bebernya.

Perlu diketahui, sebelumnya nama Kampung Jawi yakni bernama Pasar Jaten dimana pasar pariwisata berkonsep tradisional. Setelah peresmian, ia kembali mengajak warga untuk berjualan pada akhir pekan.

“Nanti bikin acara hari Minggu yok. Nanti Pak Wali tak kasih undangan lagi, sing penting jenengan dodolan (kamu berjualan). Alhamdulilah, tak namani Pasar Jaten. Njenegan gak sah ngerti, sesuk ngerti dewe. Pada saat itu, Pak Wali tanya Pasar Jaten iku opo mas? Pasar Jaten itu pasar ngisore wit jati. Alhamdulilah 25 Februari 2018, tepatnya Minggu legi, Pak Wali  meresmikan pasar jaten,” terangnya.

Sebagai informasi, dari perjalanan tersebut kini Kampung Jawi sangat ramai pengunjung baik lokal maupun luar kota. Bahkan sekarang, sebanyak 17 pedagang angkringan menjajakan kulinernya. Menariknya, Kampung Jawi juga memiliki makanan dan minuman ciri khas tersendiri. Yaitu sego berkat, wedang kawi, serta gethuk goreng dan bakar. Uniknya lagi, transaksi di spot kuliner berkonsep tradisional ini menggunakan kayu berbentuk pipih dengan sebutan Kepeng. Setiap satu kepeng ditukar senilai Rp 3.000. Dari ciri khas makanan dan minuman di Kampung Jawi tersebut, kampung itu bisa meraih juara 1 Trisakti Award. (dik/gih)