Strategi NGOPI (Ngobrol Pintar Literasi) Tingkatkan Literasi dan Prestasi Siwa

Oleh: Dhian Rahmawati, S.Pd
Kepala SDN 1 Karangkemiri, Kecamatan Wanadadi, Banjarnegara

PENDIDIKAN merupakan bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan. Perubahan dan perkembangan pendidikan merupakan hal yang seharusnya terjadi sejalan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.

Selamat Idulfitri 2024

Membaca belum menjadi budaya bagi masyarakat kita. Baik di rumah, di sekolah, maupun di  tempat-tempat umum. Kebiasaan orang tua tidak menjadi contoh baik bagi anak-anaknya. Suasana rumah yang tidak menyediakan buku membuat anak jauh dari tumbuhnya minat baca. Pembelajaran yang dilakukan guru di kelas cenderung membuat siswa menjadi pasif dan hanya mendengarkan ceramah dari guru, tanpa membiasakan siswa untuk membaca. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran, siswa kurang didorong untuk membaca (Sanjaya, 2009 : 1). Dampak teknologi seperti televisi, gadget, dan game online yang makin variatif serta menarik membuat siswa semakin jauh dari buku. Fenomena inilah yang mengakibatkan minat baca masyarakat, khususnya para siswa menjadi rendah. Sebagaimana juga terjadi di SDN 1 Karangkemiri Kec. Wanadadi Banjarnegara, rendahnya minat baca seperti diuraikan di atas, juga menjadi permasalahan yang serius. Hal ini tampak jelas dari aktivitas siswa sehari-hari yang lebih senang menghabiskan waktunya untuk bermain dibandingkan dengan membaca.

Masalah yang sama juga terjadi di perpustakaan sekolah. Suasana perpustakaan sekolah terlihat sepi pengunjung. Siswa yang berkunjung ke perpustakaan merupakan orang yang sama setiap harinya. Beberapa penyebab bahwa minat baca siswa masih rendah adalah 1)  pengelolaaan dan pelayanan perpustakaan sekolah belum efektif, 2) kurangnya buku – buku yang menarik bagi siswa di perpustakaan atau pojok baca kelas, 3) para  guru  dan orang kurang terlibat dalam mendorong siswa untuk membaca, 4) belum maksimalnya kebijakan kepala sekolah untuk mendorong siswa membaca, dan 5) kondisi lingkungan sekolah belum memberikan fasilitas. Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki.

Oleh karena itu, masalah rendahnya minat ini perlu segera diatasi dengan pemberdayaan perpustakaan sekolah. Salah satu yang kami gerakan untuk memperkuat link literasi membaca dengan program NGOPI (Ngobrol Pintar Literasi), sebuah terobosan kekinian untuk mendongkrak minat literasi siswa. Hal yang perlu kami lakukan diantaranya, Pertama, penataan ruangan. Penataan ruangan untuk talkshow literasi yang dilakukan adalah membuat ruangan selalu bersih, ruangan dicat dengan warna-warna cerah, perabotan diatur yang rapi, koleksi ditata dengan rapi, memasang gambar-gambar di dinding ruangan. Hal ini dilakuakn untuk memeberikan kenyamanan kepada para pengunjung. Ruangan yang ditata tidak terbatas pada perpustakaan saja, tetapi juga lingkungan sekolah secara keseluruhan. Kedua, perencanaan materi talk show yang Menarik. Materi bisa diambil terkait dengan kesesyuain dengan tema hari nasional, hari pendidikan, maupun juga terkait dengan pembelajaran Ketiga, Pengadaan koleksi meliputi buku-buku referensi, cerita fiksi, cerita nonfiksi, kamus, globe, majalah, surat kabar, CD dan video. Koleksi selain dilakukan dengan pembelian juga dapat dibuat sendiri seperti kumpulan karya siswa dan guru.

Ketiga, pelayanan yang ramah. Hal yang paling penting selanjutnya adalah pelayanan yang ramah. Petugas perpustakaan harus menampilkan diri dengan ramah, murah senyum, siap menjawab pertanyaan, siap mencari dan koleksi yang dibutuhkan siswa. Tutur kata dan sapaan yang sopan dan penuh kasih sayang membuat siswa akan tertarik dan merasa perpustakaan adalah tempat yang nyaman. Beberapa dampak yang berpengaruh dalam strategi ini diantaranya tumbuh kembangnya budaya literasi di sekolah, termasuk mendukung prestasi warga sekolah. Tentunya ini harus konsisten dan terus dipupuk agar program ini secara berkesinambungan. (*)