Jateng Masih Miliki PR Larang Konsumsi Daging Anjing

KETERANGAN: Sekda Sumarno saat memberi sambutan pada acara Dog Meat-Free Indonesia (DMFI) Appreciation Ceremomy & Seminar Internasional Jawa Tengah, Senin (13/6). (HUMAS / JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno menyampaikan bahwa dirinya tidak memungkiri bahwa wilayahnya masih memiliki pekerjaan rumah (PR) soal larangan mengkonsumsi daging anjing. Sebab, masih ada daerah yang mengomsumsi daging tersebut.

“Kita di Jawa Tengah masih ada PR. Ternyata tadi ada daerah yang masih mengonsumsi daging anjing. Tetapi, problem kita adalah bagaimana mengedukasi masyarakat. Karena, mereka mengonsumsi daging itu bukan dalam rangka konsumsi, melainkan mereka menganggap sebagai jamu,” katanya, usai menghadiri Dog Meat-Free Indonesia (DMFI) Appreciation Ceremomy & Seminar Internasional Jawa Tengah, Senin (13/6).

Selamat Idulfitri 2024

Pihaknya mendorong DMFI untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, pendekatan dari sisi agama penting untuk memecahkan permasalahan konsumsi daging anjing.

Baca juga:  Semarakkan Hari Kesadaran Autisme Sedunia

“Ini bisa berkolaborasi dengan teman-tenan DMFI terkait masalah ilmiah bahaya mengkonsumsi daging dan berbicara masalah kecintaan terhadap hewan peliharaan. Sedangkan, Kemenag maupun DAI untuk penekanan dari sisi agama. Jadi, ada dua sisi dari ilmiah dan pendekatan agama,” jelasnya.

Menurut Sumarno, cara tersebut efektif untuk mencegah mengonsumsi daging anjing. “Harapan kita sih, 0 memang kita bertahap untuk bisa semakin mengurangi,” ucapnya.

Sementara itu, ia mengatakan, beberapa kabupaten/kota di Jateng sebagian sudah melarang mengonsumsi daging anjing. Di antaranya, Kota Semarang, Sukoharjo, Kabupaten Magelang dan Kota Magelang, serta Kabupaten Jepara.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Upgris Jalankan Proker Penghijauan untuk Cegah Banjir

“Cuma posisinya masyarakat lebih karena bicara tadi, bukan karena pengin makan seperti kita mau makan sate. Tapi, mereka menanggap konsumsi daging anjing sebagai  jamu. Mungkin butuh edukasi yang lebih untuk mereka tidak mengkonsumsi lagi,” tandasnya.

Saat ditanya apakah Solo udah menerapkan pelarangan mengonsumsi daging anjing, Sumarno mengaku Kota Solo masih terdapat masyarakat yang mengonsumsi daging itu. “Untuk Solo belum dan kita dorong juga,” ujarnya. (dik/gih)