Pemecahan Masalah Matematika Menjadi Penanaman Pendidikan Karakter

Oleh: Niar Juwianti, S.Pd.SD
Guru SD Negeri 02 Susukan, Kec. Comal, Kab. Pemalang

PENANAMAN pendidikan karakter sejak dini sangat diperlukan seiring perkembangan jaman. Pendidikan karakter sebagai salah satu sarana penanaman nilai moral diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif atau cara untuk menyeimbangkan, antara perkembangan teknologi yang semakin pesat dengan segala pengaruhnya baik pengaruh positif maupun negatif. Sementara itu, berkaitan dengan pembelajaran matematika yang selama ini sebagian besar mengarah pada kemampuan kognitif saja, pendidikan karakter dapat diwujudkan proses pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru dengan mengintegrasikan antara hard skill dan soft skill yang dimiliki peserta didik. Pengintegrasian ini bertujuan agar terjadi keseimbangan, antara kemampuan secara kognitif dan afektif. Hal ini sesuai dengan tujuan dari pembelajaran matematika yang salah satunya adalah membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, matematis dan kemampuan kerja sama.

Selamat Idulfitri 2024

Pemecahan masalah matematika merupakan salah satu bagian dari kemampuan matematis yang harus dimiliki siswa, dalam rangka penanaman pendidikan karakter. Tujuan pemecahan masalah dalam matematika adalah untuk meningkatkan kesediaan siswa dalam memperbaiki kemampuan mereka saat memecahkan masalah, meningkatkan konsep diri siswa sehubungan dengan kemampuannya menyelesaikan masalah, membuat siswa sadar akan strategi pemecahan masalah, serta membuat siswa sadar bahwa banyak masalah dapat dipecahkan lebih dari satu cara (Novianti, 2017). Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa melalui pembelajaran pemecahan masalah, siswa diharapkan dapat menyelesaikan pemecahan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Terdapat beberapa alasan mengapa pemecahan masalah menjadi penting bagi siswa (Liljedahl et al., 2016), di antaranya yaitu: (1) siswa diharuskan mengerti tentang permasalahan matematika, mengembangkan model dari permasalahan tersebut, dan mengurangi ketakutan mereka terhadap matematika, (2) siswa harus mengembangkan rasa dan antusiasme dalam belajar matematika, (3) siswa akan lebih kritis dalam menganalisis permasalahan, (4) kemampuan pemecahan masalah adalah tujuan utama dari pembelajaran matematika dan merupakan objek utama dalam pembelajaran matematika.

Langkah-langkah pemecahan masalah matematika yang sering digunakan adalah dengan metode Polya. Metode tersebut membagi langkah-langkah tersebut dalam 4 tahap (Polya, 1973), yaitu memahami masalah, membuat perencanaan penyelesaian masalah, melaksanakan rencana penyelesaian masalah, dan mengecek kembali hasil dari pemecahan masalah. Penjelasan masing-masing tahap tersebut adalah: (1) Memahami masalah. Indikator dalam memahami masalah adalah siswa dapat mengidentifikasi apa yang diketahui, ditanyakan dan apa yang diperlukan dalam penyelesaian masalah. (2) Membuat perencanaan. Indikator dalam tahap ini adalah siswa dapat memformulasikan permasalahan matematika dan membuat strategi dengan memodelkan permasalahan tersebut. (3) memecahkan masalah, (4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (Tambunan, 2019).

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Proses pembelajaran matematika dalam kaitannya dengan penanaman pendidikan karakter, dapat diaplikasikan dengan memaksimalkan fungsi guru di dalamnya. Guru mempunyai peran yang sangat penting yaitu sebagai fasilitator dan sebagai role model untuk siswa. Guru sebagai fasilitator mempunya peran untuk menanamkan konsep matematika secara optimal kepada siswa. Sedangkan guru sebagai role model mempunyai peran memberikan contoh perilaku yang baik kepada siswa serta menjadi mengontrol perilaku siswa, agar sesuai dengan karakter yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa guru harus secara beriringan mampu mengajarkan konsep matematika, sekaligus menanamkan pendidikan karakter di dalamnya. Proses penanaman konsep matematika dan pendidikan karakter yang beriringan tersebut dapat terwujud dengan menerapkan pendekatan pemecahan masalah matematika dalam proses pembelajarannya.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan pembahasan di atas, disimpulkan bahwa penanaman pendidikan karakter oleh guru dapat dilakukan dalam proses pembelajaran mulai dari awal kegiatan pembelajaran sampai kegiatan evaluasi. Guru dapat menerapkan model-model pembelajaran dalam rangka penanaman pendidikan karakter. Salah satunya adalah dengan pendekatan pemecahan masalah. Proses pemecahan masalah yang memerlukan beberapa tahap penyelesaian di dalamnya, akan memuat beberapa nilai karakter, di antaranya kegigihan, minat, dan kerja sama. (*)