Tingkatkan Efektivitas Pembelajaran IPA Sekolah Dasar dengan Metode Resitasi

Oleh: Hery Prasetya, S.Pd
Guru SDN Wonorejo, Kec. Kaliwungu, Kab. Kendal

MENGEMBANGKAN potensi peserta didik memerlukan ketrampilan guru dalam mengelola proses pembelajaran, salah satunya dengan menggunakan metode pembelajaran yang inovatif dan variatif dalam suatu materi atau pembahasan. Karena pada saat proses pembelajaran dilaksanakan, terkadang ada ketidaksesuaian antara harapan dengan fakta yang terjadi di lapangan atau masalah dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Salah satu faktor yang mempengaruhi dalam pembelajaran IPA adalah metode pembelajaran yang masih berpusat pada guru, sehingga siswa kurang aktif pada saat pembelajaran. Selain itu, media belajar yang digunakan guru kurang bervariasi. Maka dari itu perlu adanya metode pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, dan inovatif dalam proses pembelajaran, supaya peserta didik lebih mudah dan aktif dalam memahami materi pembelajaran IPA yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran resitasi.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Djamarah dan Zain (2006: 85) metode resitasi atau penugasan adalah metode penyajian bahan, di mana guru memberikan tugas (dapat diberikan secara individual atau kelompok) tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar, dan pada akhirnya mempertanggung jawabkan tugas tersebut. Pada dasarnya, pola resitasi dilakukan dengan memberikan tugas kepada siswa, biasanya anak belajar tentang sesuatu, dan kemudian siswa menjawab pertanyaan yang mengungkap penguasaannya. Bahan-bahan pelajaran terintegrasi dengan latihan soal-soal. Metode pemberian tugas atau resitasi merupakan metode mengajar yang berupa pemberian tugas oleh guru kepada siswa, kemudian siswa harus mempertanggungjawabkan atau melaporkan hasil tugas tersebut. Bahan-bahan pelajaran terintegrasi dengan latihan soal-soal.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Metode Resitasi ini dapat lebih efektif jika didampingi media yang interaktif pula. Media yang dipilih adalah Moeko (monopoli ekosistem). Monopoli ekosistem adalah suatu media pembelajaran yang dikemas dalam suatu permainan monopoli. Peraturan permainan ini hampir sama dengan permainan monopoli pada umumnya. Hanya saja, setiap pemain harus siap untuk menjawab pertanyaan tentang materi yang berkaitan dengan ekosistem yang disediakan di dalam permainan ini. Penggunaan media merupakan salah satu upaya untuk melakukan pembelajaran dengan konkret. Media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Media termasuk alat peraga yang memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar-mengajar yang efektif. Media pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan atau menyalurkan pesan dari suatu sumber secara terencana, sehingga terjadi lingkungan belajar yang kondusif, di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Terdapat 3 langkah atau fase yang bisa dilakukan untuk menggunakan metode resitasi ketika proses pembelajaran. Yakni fase pemberian tugas, fase pelaksanaan tugas, dan fase pertanggungjawaban tugas. Langkah pertama yang dilakukan untuk menerapkan metode ini yaitu memberikan tugas kepada siswa. Tugas yang diberikan tidak boleh asal-asalan, guru harus mempertimbangkan beberapa hal, mulai dari tujuan yang ingin dicapai, jenis tugas yang bisa dimengerti oleh siswa, instruksi tugas jelas, serta memberikan waktu yang cukup bagi siswa untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Selanjutnya adalah fase pelaksanaan tugas, di mana guru memberikan bimbingan atau dorongan kepada siswa agar dapat melaksanakan, mengerjakan, serta mengusahakan tugas dapat selesai dengan yang baik dan dikerjakan secara mandiri. Usahakan siswa menyelesaikan tugasnya sendiri dengan mencatat hasil yang didapatkan secara sistematis dan mudah dimengerti. Dalam fase ini, guru juga bisa menjelaskan atau mencontohkan tugas yang akan diberikan.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Langkah terakhir yaitu fase pertanggungjawaban tugas atau yang disebut dengan resitasi. Di fase ini, siswa melaporkan apa yang telah dikerjakannya, baik secara lisan maupun tertulis. Tugas tersebut ada yang berbentuk tanya jawab maupun diskusi, kemudian guru dapat melakukan penilaian hasil kerja siswa sesuai dengan kemampuan mereka. (*)