Tingkatkan Ketrampilan Penerapan PAKEM Guru melalui Diklat Bimbingan Terintegrasi

Oleh: Ardi Hermawan, M.Pd.
Kepala SDN 1 Duren, Kec. Pagedongan, Kab. Banjarnegara

HASIL belajar pendidikan di Indonesia masih dipandang kurang baik. Sebagian besar siswa belum mampu menggapai potensi ideal/optimal yang dimilikinya. Oleh karena itu, perlu ada perubahan proses pembelajaran dari kebiasaan yang sudah berlangsung selama ini. Pembelajaran yang saat ini dikembangkan dan banyak dikenalkan ke seluruh pelosok tanah air adalah Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan atau disingkat dengan PAKEM. Disebut demikian karena pembelajaran ini dirancang agar mengaktifkan anak serta mengembangkan kreativitas, sehingga pembelajaran dapat lebih efektif namun tetap menyenangkan.

Selamat Idulfitri 2024

Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran, guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam, sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan, siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya “time on task” tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai.

Adanya kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan pendidikan dasar membawa konsekuensi di bidang pendidikan, antara lain perubahan dari model atau metode pembelajaran yang lebih berpusat guru ke pengembangan model atau metode yang lebih berpusat pada siswa. Hal demikian menuntut kemampuan guru dalam merancang model pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, sesuai dengan karakteristik bidang kajian dan karakteristik siswa agar mencapai hasil yang maksimal. Terdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan pergeseran peran guru dalam pembelajaran. Yakni cara pandang guru terhadap siswa dan cara mengajari siswa agar bisa berhubungan dengan masalah yang dihadapi dan mengatasi persoalan yang muncul di masyarakat. Siswa bukan lagi sebagai obyek pengajaran, tetapi siswa sebagai pelaku aktif dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, dalam konteks pembelajaran guru diharapkan mampu memberikan dorongan kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Guru juga diharapkan mampu mengajarkan bagaimana siswa bisa berhubungan dengan masalah yang dihadapi dan mengatasi persoalan yang muncul di masyarakat. Antara lain dengan cara memberikan tantangan berupa kasus-kasus yang sering terjadi di masyarakat, yang masih terkait dengan bidang studi. Melalui kegiatan tersebut diharapkan siswa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai bekal kemandirian dalam menghadapi berbagai tantangan di masyarakat.

Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah untuk mengungkapkan gagasannya dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolah (Indrawati: 2005). Latihan Pembimbingan untuk pengembangan PAKEM dilaksanakan di SD Negeri 1 Duren, Kec. Pagedongan Banjarnegara dalam bentuk sidang pleno dan praktik di kelas atau real teaching. Sidang pleno berupa presentasi materi-materi umum oleh narasumber yang diikuti oleh tanya-jawab dan diskusi masalah-masalah yang terkait langsung dengan pokok materi yang disajikan. Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan praktik menyusun silabus dan RPP yang menerapkan pendekatan PAKEM dan dilanjutkan dengan post test. Real teaching berupa kegiatan memraktikkan Silabus dan RPP yang menerapkan pendekatan PAKEM. Silabus dan RPP ini harus sudah dibuat pada sidang pleno. Setelah kegiatan real teaching dilaksanakan, diadakan refleksi untuk mengetahui berbagai kekurangan yang selanjutnya dijadikan dasar untuk kegiatan real teaching berikutnya.

Kesimpulannya, kegiatan ini menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan dalam bentuk workshop lebih banyak memberikan tambahan pengetahuan bagi guru tentang materi workshop itu sendiri, dalam hal ini tentang pendekatan PAKEM. Sedangkan peningkatan keterampilan guru dalam penerapan PAKEM di kelas lebih banyak diperoleh melalui kegiatan bimbingan dalam praktik langsung. (*)