Tingkatkan Berpikir Kritis Siswa melalui Bimbingan Klasikal Berbasis PJBL

Emi Widyawati, S.Pd

Oleh: Emi Widyawati, S.Pd
Guru BK SMP Negeri 2 Kradenan, Kabupaten Grobogan

PEMBIMBINGAN klasikal sebagai proses pembelajaran berlangsung sebagai suatu kegiatan yang saling mempengaruhi antara guru dan siswa. Pembelajaran melalui bimbingan klasikal dikatakan mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis apabila siswa terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hal diatas, uapaya guru dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa sangatlah penting, sebab kemampuan berpikir kritis siswa menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.

Selamat Idulfitri 2024

Dalam meningkatkan mutu pelajaran dan kemampuan berpikir kritis siswa maka gurulah salah satu faktor yang cukup berpengaruh langsung dalam peningkatan mutu tersebut. Seorang guru diberi tanggung jawab mendorong dan membimbing agar siswanya menjadi aktif dan terampil dalam berpikir kritis serta dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan guru juga mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa.

Penggunaan model pembelajaran pada dasarnya membantu berhasilnya proses belajar mengajar. Keberhasilan suatu pembelajaran di kelas, terlihat dari perkembangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Pembelajaran akan berhasil dengan baik apabila guru mampu menguasai kelas, materi ajar, penggunaan metode pembelajaran, model pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lainnya yang mendukung keberhasilan proses pembelajaran.

Kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII SMP Negeri 2 Kradenan Kabupaten Grobogan masih rendah. Sehingga perlu digunakan model pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa salah satunya dengan model PJBL.

PJBL merupakan singkatan dari Project Based Learning. Project Based Learning adalah proses dan produk pada konsep-konsep serta prinsip-prisip utama dari suatu disiplin, melibatkan siswa memecahkan masalah, memberi peluang siswa bekerja secara otonom. Pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang melatih kemampuan siswa untuk membuat suatu produk guna mengaplikasikan pengetahuannya dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, sehingga siswa mampu mengembangkan kemampuan berpikirnya dan dapat menghubungkan materi dengan dunia nyata. Project Based Learning dalam prosesnya menggunakan beberapa tahapan.

Model project based learning ini diprakarsai oleh hasil implikasi dari Surat Edaran Mendikbud no.4 tahun 2020. Project based learning ini memiliki tujuan utama untuk memberikan pelatihan kepada pelajar untuk lebih bisa berkolaborasi, gotong royong, dan empati dengan sesama. Model project based learning ini sangat efektif diterapkan untuk para pelajar dengan membentuk kelompok belajar kecil dalam mengerjakan projek, eksperimen, dan inovasi.

Project Based Learning dimulai dengan sebuah pertanyaan esensial atau membimbing. Diselesaikan dalam waktu yang agak lama. Berorientasi dengan produk akhir atau “artifact” (berupa produk tulisan, lisan, visual dan multimedia), serta kegiatan produksi yang memerlukan pengetahuan isi tertentu atau keterampilan, dan biasanya menimbulkan satu atau lebih masalah yang harus dipecahkan siswa. Proyek bervariasi dalam lingkup dan kerangka waktu, dan produk akhir sangat bervariasi dalam tingkat teknologi yang digunakan serta kecanggihannya. Hasil pembelajaran berupa produk (model, prototype, poster seni, pertunjukan, dll).

Tahapan dalam model Project Based Learning dapat mempermudah siswa dalam menganalisis suatu permasalahan, membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks, meningkatkan kolaborasi, serta mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir dan mempraktikkan keterampilan komunikasi, sehingga model pembelajaran ini mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada siswa.

Pada Model Pembelajaran Project Based Learning dapat memunculkan kemampuan berpikir kritis siswa, dan proses pembelajarannya juga membuat siswa yang pasif menjadi aktif, karena dari awal hingga akhir semua siswa akan memecahkan suatu masalah dan menghasilkan suatu produk.

Penggunaan model PjBL dapat lebih mengaktifkan siswa, karena pada awal hingga akhir pembelajaran siswa berdiskusi dan membuat proyek. Hal ini pula yang terlihat di kelas VII SMP Negeri 2 Kradenan Kabupaten Grobogan. Sehingga kemampuan berpikir kritis siswa meningkat secara signifikan.

Sebagai seorang pendidik yang profesional hendaknya tidak terfokus pada satu cara dalam mengajar. Seorang pendidik hendaknya mempertimbangkan setiap karakteristik siswanya dan tidak menyamakan kemampuan setiap karena mereka memiliki keunikannya masing-masing.(*)