Opini  

Di Mana Pun Pengabdiannya, Guru Tetap Pahlawan tanpa Tanda Jasa

Oleh : Drs. Zainal Abidin Ischaq
Staf Lembaga Pengembangan Profesi Universitas Ivet Semarang

SUDAH banyak dan sering kita baca atau temukan tulisan yang membahas masalah guru. Mulai dari hal yang baik-baik atau positif hingga kepada masalah yang sebenarnya kalau kita renungkan mungkin kurang pantas untuk dibahas.

Selamat Idulfitri 2024

Ya, guru memang menempati posisi yang tidak sembarangan dan sepertinya jika kita membahasnya juga tidak ada bosan-bosannya, selalu saja ada hal yang menarik. Mungkin hal ini karena kita merasa kepotangan budi sehingga bisa menjadi orang seperti pada saat ini tidak lain karena atas jasa Bapak dan Ibu guru yang pernah mendidik dan memberi pelajaran kepada kita. Guru diharapkan selalu berlaku benar dan tepat, karena guru itu “kudu digugu lan ditiru”, bisa memberi nasehat dan teladan yang baik.

Guru sangat besar jasanya buat kita, karena dari guru kita bisa membaca, menulis, berhitung dan lain-lain. Secara ringkas, karena dengan bersekolah, kita dididik oleh para guru sehingga menjadi pintar, sampai-sampai ada yang menjadi Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Jendral, Direktur, Profesor dan lain-lain. Oleh karenanya tidak salah dan berlebihan jika guru dari dahulu hingga sekarang tetap disebut Pahlawan. Ya guru itu “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” karena hingga sekarang sepertinya belum pernah seorang gurupun yang secara resmi menerima predikat Pahlawan dengan bintang jasa dari profesinya.

Baca juga:  Upaya Intensif PJ Gubernur Jawa Tengah Nana Sujana dalam Mengatasi Banjir Awal Tahun 2024, Patut Diapresiasi

Terkadang kita berpikir, guru itu bagian dari masyarakat yang sangat besar jasanya, tetapi juga menjadi pihak yang sering menjadi sorotan, tudingan dan diolok-olok. Misalnya, jika terjadi tawuran antar murid-murid sekolah, tidak lain juga guru yang disorot dan disalahkan. Jika mutu pendidikan turun, guru juga yang dituding. Kalau lulusan atau tamatan sekolah menengah atau perguruan tinggi tidak “siap pakai” siapa lagi kalau bukan guru atau dosennya yang diolok-olok.

Suasana yang demikian sepertinya sudah dianggap biasa. Justru organisasi para guru, yaitu PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) juga tidak memberikan reaksi apa-apa. Padahal kalau kita pikir, sejak dahulu guru itu menempati tempat atau posisi yang sangat penting.

Ya, karena guru menempati posisi yang sangat penting atau khusus itulah kadang-kadang menjadikan anak didik kita berani membantah atau tidak percaya apa yang disampaikan oleh orang tuanya, manakala apa yang disampaikan orang tuanya berlawanan atau tidak cocok dengan apa yang diajarkan guru di sekolahan. Terlebih lagi terhadap anak kecil, murid SD umpamanya.

Kejadian itu, jika kita pikir memang tidak mengherankan, karena dalam kenyataan guru yang pada umumnya lebih dahulu bisa membuka pikiran anak didik, membuka cakrawala baru dan mengisinya dengan ilmu pengetahuan yang tidak bisa diterima orang tuanya di rumah. Maka bisa dikatakan kalau guru itu sebenarnya pihak yang paling awal membukakan pintu untuk anak didiknya masuk dalam ranah kehidupan anak didik, pihak yang paling awal membukakan pintu hingga pada akhirnya bisa menjadi polisi, hakim, jaksa, tentara, direktur, guru atau dosen, pedagang, insinyur, dokter, jendral dan lain-lainnya termasuk menjadi Presiden.

Baca juga:  Upaya Intensif PJ Gubernur Jawa Tengah Nana Sujana dalam Mengatasi Banjir Awal Tahun 2024, Patut Diapresiasi

Menyadari pentingnya keberadaan guru, muncul pertanyaan mengapa citra guru kok tetap tidak bisa sumringah dan sepertinya selalu menjadi obyek sorotan, tudingan dan olok-olokan ? Mengapa guru sepertinya menjadi keranjang sampah omelan orangtua murid jika anaknya secara kebetulan kurang pinter dan tidak naik kelas atau lulus sekolahnya ? dilabrak orangtuanya karena diwaduli anaknya yang dimarahi gurunya karena kurang ajar, tanpa terlebih dahulu dicek penyebab anak itu dimarahi ? dan kadang-kadang dengan menggunakan (apa menyalahgunakan) wewenang dan jabatanya, dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lain yang pada intinya tidak menghargai terhadap jasa guru-gurunya.

Kita yakin, kalau guru yang sudah memilih profesinya itu seperti halnya menjalani hidup, masalah honor atau gaji tidak menjadi tujuannya. Namun kita sebagai warga bangsa juga sudah menentukan kalau pembangunan manusia itu menjadi tujuan utama pembangunan nasional serta mengakui guru menjadi sosok yang mengawali berdirinya pondasi untuk pembangunan manusia. Oleh karena itu sudah saatnyalah kita lebih mencurahkan perhatian dan mengkaji ulang terhadap honor yang diberikan kepada guru.

Baca juga:  Upaya Intensif PJ Gubernur Jawa Tengah Nana Sujana dalam Mengatasi Banjir Awal Tahun 2024, Patut Diapresiasi

Sebab guru yang benar-benar sebagai guru, mesthi beranggapan profesinya itu sudah menjadi tujuan dan gaya hidupnya. Tidak perduli apakah masyarakat akan memberikan imbalan yang sepantasnya atau tidak. Tetapi bagaimanapun guru itu juga manusia biasa yang mempunyai keinginan dan cita-cita agar bisa hidup pada tataran masyarakat pada umumnya dan tetap bisa memberikan yang terbaik terhadap apa yang dimilikinya.

Terkait hal yang kita bicarakan di atas, sudah saatnya kalau kita lebih memperhatikan dan menghitung-hitung kembali pangaji-aji kita terhadap guru. Jangan sebatas ucapan saja dengan kalimat yang berlebihan : “Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’, tetapi juga dengan bukti nyata. Alhamdulillah mulai taun 2005, guru berangsur-angsur memperoleh perhatian dari pemerintah  dengan adanya sertifikasi guru dan Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) guna menaikkan taraf hidup guru supaya lebih baik dan seimbang dengan jasa-jasanya.

Dengan UUGD tersebut, setiap guru diharapkan bisa berbuat bijaksana. Jangan karena mengejar sertifikasi, semua cara dihalalkan dan diterapkan termasuk membuat sertifikat atau piagam palsu untuk keperluan melengkapi portofolio dan lain sebagainya. Bagaimanapun, Guru itu sampai kapanpun akan menjadi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. (*)