Napi Teroris Dikunjungi Stafsus Menteri Hukum dan HAM

DIALOG: Suranto Abdul Ghoni, terpidana dalam kasus Bom Bali I bertemu dengan Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM Bidang Transformasi Digital, Fajar B.S Lase saat berkunjung ke Lapas Semarang, belum lama ini. (HUMAS / JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Suranto Abdul Ghoni, terpidana dalam kasus Bom Bali I mendapatkan kunjungan dari Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM Bidang Transformasi Digital, Fajar B.S Lase saat berkunjung di Lapas Semarang, belum lama ini. Kunjungan ini dilakukan dalam bentuk apresiasi dari Fajar kepada Abdul Ghoni yang kini aktif membuat karya kaligrafi di dalam lapas.

Diketahui, Abdul Ghoni kini sedang menerapkan ilmu agamanya kedalam bentuk karya seni. Dirinya sangat serius belajar berkarya dan mencari bentuk-bentuk kaligrafi terbaru. Hal itu terbukti dari dirinya yang tepat memilih ayat mana saja dalam Al-Quran yang jika dijadikan kaligrafi akan menjadi karya yang indah.

Selamat Idulfitri 2024

“Saya apresiasi atas pembuatan kaligrafi tersebut. Sangat bagus dan luar biasa narapidana di Lapas Semarang diberikan kegiatan yang positif, khususnya napi teroris,” puji Fajar B.S Lase, saat melihat karya buatan Abdul Ghoni.

Baca juga:  Rez Hotel Berpartisipasi Gerakan Earth Hour 2024

Sementara itu, Kalapas Semarang Tri Saptono Sambudji ikut bangga akan karya anak didiknya tersebut. Sebab, karya tersebut merupakan salah satu wujud implementasi program deradikalisasi napi terorisme di lapas.

“Abdul Ghoni sangat kooperatif dengan petugas serta aktif dalam kegiatan pembinaan kepribadian maupun kemandirian, termasuk keterampilan membuat kaligrafi tersebut. Selain itu, Abdul Ghoni juga pandai mengolah makanan yaitu berupa pia-pia (bakwan) yang diproduksi untuk dijual di koperasi Lapas. Ini merupakan wujud keberhasilan Lapas dalam upaya membina narapidana khususnya pembinaan narapidana teroris,” jelasnya.

Baca juga:  Turun 0,1 Persen, PPKBD Jadi Ujung Tombak Penurunan Stunting

Sebagai informasi, Suranto Abdul Ghoni merupakan terpidana dalam kasus Bom Bali I yang ditangkap Densus 88, sembilan belas tahun silam. Kini, Abdul Ghoni harus menghabiskan sisa hidupnya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang karena vonis seumur hidup oleh Mahkamah Agung. Sebelum pindah ke Lapas Semarang tahun 2008, sebelumya dia ditahan di Lapas Krobokan Bali sejak tahun 2003.

Namun, Abdul Ghoni tidak mendapatkan hak remisi atau potongan hukuman maupun pembebasan bersyarat karena vonisnya seumur hidup di penjara. Sehingga, ia lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan membuat karya seni kaligrafi timbul pada media kuningan. (luk/gih)