Membuat Diagram Menggunakan Metode Belajar Berbasis Masalah

Oleh: Setyowati, S.Pd.
Guru SD Negeri 03 Kebojongan, Kec. Comal, Kab. Pemalang

PEMBELAJARAN materi membuat diagram di kelas III SD Negeri 03 Kebojongan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, keaktifan siswa dalam mengikutinya termasuk rendah. Siswa yang aktif hanya beberapa saja. Bagi siswa yang rajin belajar, mereka bisa meresponsnya. Misalnya ketika guru mengajukan pertanyaan, siswa tersebut berani menjawabnya, walaupun jawaban mereka kurang tepat. Selain itu, siswa yang malas lebih banyak memilih diam karena mereka tidak berani untuk berpendapat dalam kelas. Hal ini berdampak dengan sebuah kondisi, di mana hanya siswa yang memang pada dasarnya aktif yang dapat mengikuti pembelajaran. Sedangkan siswa yang pasif tetap pasif, bahkan penjelasan yang mereka dengar cenderung akan ikut pergi bersama guru yang meninggalkan kelas ketika pembelajaran usai. Penulis berupaya mengatasi situasi tersebut dengan mencoba menggunakan metode belajar berbasis masalah.

Selamat Idulfitri 2024

Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual, sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Menurut Jerome S. Bruner, metode Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based Learning (PBL) merupakan metode di mana peserta didik menemukan kembali, bukan menemukan hal yang benar-benar baru. Belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dengan sendirinya memberikan hasil yang lebih baik, berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta didukung oleh pengetahuan yang menyertainya, serta menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.

Adapun langkah-langkah pembelajaran membuat diagram dengan metode berbasis masalah dapat kita lakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut; Pertama, buat kelompok kecil dalam kelas, sampaikan pada siswa tentang tujuan pembelajaran yang ingin kita capai. Kemudian, sajikan sebuah masalah yang harus dipecahkan siswa. Misalnya disajikan data laporan hasil panen dari tahun ke tahun. Kemudian siswa diminta untuk menuliskan informasi berdasarkan data tersebut dan menyajikannya dalam bentuk diagram. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan rasa ingin tahu, kemampuan analisis, juga inisiatif. Pastikan setiap anggota paham berbagai istilah serta konsep yang ada dalam data. Sebagai guru, kita juga memiliki peran sebagai pemberi motivasi agar setiap siswa terlibat langsung dalam pemecahan masalah.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Kedua, ketika terjadi masalah yang timbul dari tugas yang diberikan, kemudian perintahkan anak untuk membahasnya di dalam kelompok. Setiap anggota dalam kelompok akan menyampaikan informasi yang sudah dimiliki perihal masalah yang ada. Kemudian, akan terjadi diskusi yang membahas informasi faktual, dan juga informasi yang dimiliki setiap siswa. Peran kita sebagai guru adalah membantu siswa untuk mengorganisasikan tugas belajar yang relevan dengan masalah yang disajikan.

Ketiga, membantu siswa ketika proses perencanaan dan penyajian karya. Mulai dari laporan hasil diskusi hingga pembagian tugas di antara anggota dalam kelompok. Selanjutnya, setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi di depan kelas. Dalam proses penyampaian hasil diskusi ini harus benar-benar diperhatikan, mengingat siswa kelas tiga masih dalam perkembangan berpikir konkret. Keempat, arahkan siswa untuk melakukan refleksi dan evaluasi dalam proses belajar.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Materi membuat diagram yang disampaikan dengan metode berbasis masalah, ternyata mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar. Kegiatan tanya jawab antar siswa menjadi lebih hidup. Bahkan anak yang sebelumnya pasif, ketika ditanya oleh guru mampu menjawabnya. Mereka lebih siap karena permasalahan yang dihadapi telah dibahas di dalam kelompok. Kegiatan belajar mengajar tersebut memudahkan guru dalam melakukan penilaian pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. (*)