Penggunaan Model Pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Multimedia dalam Mapel PPKn

Oleh: Siti Nursiyam, S.Pd.SD
Guru SD Negeri 02 Pecangakan, Kec. Comal, Kab. Pemalang

PROSES pembelajaran yang terjadi di dalam kelas yang diberikan oleh pendidik  harusnya bisa menarik, efektif, dan efisien dengan menggunakan model-model pembelajaran, strategi, media, pendekatan, dan metode pembelajaran. Sehingga peserta didik akan bisa lebih aktif, kreatif, dan fokus dalam suatu pembelajaran. Mata pelajaran PPKn di SD memiliki kedudukan yang sangat penting dalam upaya untuk mempersiapkan siswa menjadi manusia yang berkarakter mulia. Sekolah dasar memiliki peranan penting demi masa depan bangsa, karena masa depan bangsa berada ditangan mereka. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, PPKn perlu menggunakan model atau media pembelajaran yang tepat agar tercipta suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Maka dari itu, guru memilih model pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Multimedia.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Turban, dkk (2002), multimedia adalah kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output dari data. Media ini dapat berupa audio (suara atau musik), animasi, video, teks, grafik, dan gambar. Pada abad 21, multimedia segera menjadi suatu keterampilan dasar yang sama pentingnya dengan keterampilan membaca.  Kelebihan multimedia adalah menarik indra dan menarik minat, karena merupakan gabungan antara pandangan suara dan gerakan. Perkembangan multimedia mengikuti perkembangan internet, maka multimedia merupakan pasar yang pertumbuhannya tercepat di dunia saat ini.

Model pembelajaran Probing-Prompting merupakan pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian yang sifatnya menuntun dan menggali, sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan dan pengalaman siswa dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa mengonstruksi konsep, prinsip, dan aturan menjadi pengetahuan baru. Pada model pembelajaran ini, proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak, sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab (Maulana Arafat Lubis: 2018)

Langkah-langkah Model Pembelajaran Probing-Prompting yaitu; (1) Guru menghadapkan siswa pada situasi baru, misalkan dengan memerhatikan gambar, rumus, atau situasi lainnya yang mengandung permasalahan; (2) Menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil dalam merumuskannya; (3) Guru mengajukan persoalan kepada siswa yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus atau indikator kepada seluruh siswa; (4) Menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil untuk merumuskannya; (5) Menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan; (6) Jika jawabannya tepat, guru meminta tanggapan kepada siswa lain tentang jawaban tersebut untuk meyakinkan bahwa seluruh siswa terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Namun, jika siswa tersebut mengalami kemacetan jawaban, dalam hal ini, jawaban yang diberikan kurang tepat, tidak tepat atau diam, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain yang jawabannya merupakan petunjuk jalan penyelesaian jawaban. Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan yang menuntut siswa berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, sampai dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator. Pertanyaan yang dilakukan pada langkah keenam ini sebaiknya diajukan kepada beberapa siswa yang berbeda agar seluruh siswa terlibat dalam seluruh kegiatan; (7) Guru mengajukan pertanyaan akhir pada siswa yang berbeda untuk lebih menekankan bahwa indikator tersebut benar-benar telah dipahami oleh seluruh siswa.

Model pembelajaran Probing-Prompting berbasis multimedia dalam pembelajaran PPKn SD/MI akan mempermudah siswa dan pendidik dalam proses pembelajaran. Pendidik dapat dengan mudah mendapatkan sumber belajar, dan pendidik dapat menyajikan berbagai macam seperti teks, gambar, audio, dan video dan animasi. Dengan demikian, siswa akan lebih menarik dalam proses pembelajaran dan tujuan pembelajaran akan tercapai. (*)