Model Discovery Learning pada Mata Pelajaran IPA di SD

Oleh: Tri Astuti, S.Pd.
Guru SD Negeri 01 Losari Kecamatan Ampelgading, Pemalang

PENDIDIKAN IPA atau yang disebut sains di sekolah dasar bermanfaat bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Pendidikan sains menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga bisa membantu siswa memperoleh pengalaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Selamat Idulfitri 2024

Istilah sains berasal dari bahasa latin ‘scienta’ yang bearti pengetahuan. Berdasarkan Webser New Collegiate Dictionary, definisi sains adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian, atau pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum-hukum alam yang terjadi, yang didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bawa sains atau IPA adalah ilmu yang mempelajari alam dan pengalaman secara langsung. Dengan kumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum terbatas-batas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang malalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur, dan sebagainya.

Sedangkan pembelajaran IPA di sekolah dasar mempunyai tujuan yang di antaranya yaitu: a) Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. b) Mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah. c) Mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang melektual sains dan teknologi. d) Menguasai konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat dan menjadikan pendididkan ke jenjang lebih tinggi. Pengertian Pembelajaran IPA Menurut Sumanato dkk sains merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsepkonsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah. Dengan kumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum terbatas-batas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang malalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur, dan sebagainya.

Sementara itu, Model Discovery, apabila ditinjau dari kata Discover berarti menemukan, sedangkan Discovery adalah penemuan. Dalam kaitannya dengan pendidikan, Oemar Hamalik menyatakan bahwa Discovery adalah proses pembelajaran yang menitik beratkan pada mental intelektual para anak didik dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi, sehingga menemukan suatu konsep atau generalisasi yang dapat diterapkan di lapangan. Tokoh pendidikan bernama Bruner menyakini bahwa implikasi Discovery Learning dalam proses pembelajaran akan mampu memberikan jaminan ideal bagi kematangan anak didik dalam mengikuti materi pelajaran, sehingga pada perkembangan selanjutnya dapat memperkuat wacana intelektual mereka. Sedangkan menurut Budiningsih, model Discovery learning adalah memahami konsep arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Discovery sendiri terjadi apabila individu terlibat. Terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui proses mental, yakni observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, dan penentuan.

Sebagai sebuah model pembelajaran, Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri dan problem solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery learning lebih menekankan pada ditemukan konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Pada intinya, model pembelajaran Discovery learning ini mengubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented di mana guru menjadi pusat informasi menjadi student oriented siswa menjdi subjek aktif belajar.

Dalam model Discovery learning, guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Dengan model Discovery learning, bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, meorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan. Hal tersebut memungkinkan para siswa menemukan arti bagi diri sendiri, dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. (*)