Model Kontekstual Tingkatkan Pemahaman Materi Pengukuran

Oleh: Himmatul Ulya, S.Pd.
Guru Kelas SD Negeri Medini 2, Kec. Gajah, Kab. Demak

PENGUKURAN merupakan salah satu materi matematika yang ada di kelas II sekolah dasar, di mana salah satunya membahas pengukuran panjang menggunakan alat ukur baku dan tidak baku. Berdasarkan hasil dari pengamatan, terlihat bahwa pemahaman konsep anak masih rendah. Hal ini terlihat pada rendahnya tingkat ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal di kelas II. Terjadi fenomena demikian karena pembelajaran masih dilaksanakan secara konvensional atau guru dominan ceramah. Guru jarang menggunakan alat peraga sebagai alat bantu dalam menyampaikan materi yang bersifat abstrak agar menjadi konkret sehingga siswa lebih paham. Oleh karenanya, hal tersebut harus segera diatasi dengan memilih model pembelajaran yang sesuai, yakni model pembelajaran kontekstual.

Selamat Idulfitri 2024

Pembelajaran kontekstual adalah konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, serta mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses mengajar, tujuan terpenting yang hendak dicapai adalah agar siswa mampu memahami sesuatu berdasarkan pengalaman belajarnya. Pemahaman adalah suatu cara yang sistematis dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan, atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan menghubungkan antara apa yang siswa pelajari dan bagaimana pengetahuan itu akan digunakan untuk memahami konsep-konsep akademis, tentu akan sangat berguna bagi kehidupan mereka di masa datang, atau saat mereka bermasyarakat ataupun saat di tempat kerja kelak, yaitu dengan menggunakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Dengan demikian, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.

Langkah-langkah model pembelajaran kontekstual dalam penggunaan sehari-hari yaitu: a. Kembangkanlah mindset bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya; b. Lakukan kegiatan inkuiri untuk semua topik; c. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya; d. Upayakan membuat masyarakat belajar; e. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran yang benar; f. Lakukan refleksinya di akhir pertemuan; dan g. Laksanakan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara yang inovatif.

Kelebihan dari pendekatan kontekstual yaitu: a. Memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat maju sehingga siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar; b. Siswa dapat berpikir kritis dan kreatif. Memahami isu dan memecahkan masalah; c. Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari; d. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru; e. Pembelajaran lebih menyenangkan; dan f. Membantu siswa bekerja dengan efektif dalam kelompok. Sedangkan kelemahan model pembelajaran kontekstual yaitu: a. Dalam pemilihan materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa; b. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang lama; c. Tampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan kurang; dan d. Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan. Maka berdasarkan kelemahan di atas, guru harus lebih banyak membimbing, karena guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.

Setelah dilakukan pembelajaran pada materi pengukuran di kelas II SD Negeri Medini 2, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, dengan model pembelajaran kontekstual didapatkan fakta bahwa pemahaman siswa meningkat. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan hasil belajar secara klasikal. (*)