Asyik Belajar Simbol Sila Pancasila dengan Talking Stick

Oleh: Himmatul Ulya
Guru Kelas SD Negeri Medini 2, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak

SIMBOL-simbol sila Pancasila merupakan salah satu materi PPKn yang ada di kelas II sekolah dasar. Berdasarkan hasil dari pengamatan terlihat bahwa pemahaman konsep anak masih rendah. Hal ini terlihat pada rendahnya tingkat ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal di kelas II. Rendahnya ketuntasan klasikal disebabkan minat dan motivasi siswa selama pembelajaran juga rendah. Hal tersebut terjadi karena pembelajaran masih dilaksanakan secara konvensional/guru dominan ceramah. Guru jarang menggunakan alat peraga atau strategi pembelajaran inovatif dalam menyampaikan materi. Maka dari itu, guru harus segera memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi simbol-simbol sila Pancasila yakni menggunakan model pembelajaran talking stick.

Selamat Idulfitri 2024

Model pembelajaran talking stick merupakan model pembelajaran dimana dalam aktivitasnya menggunakan media stick (tongkat). Pada pelaksanaannya tongkat akan berputar dengan iringan lagu yang dinyanyikan oleh siswa secara bersama-sama hingga berhenti. Kemudian siswa yang mendapatkan tongkat saat lagu berhenti harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Aktivitas tersebut dilakukan setelah materi utama selesai disampaikan. Oleh karenanya pembelajaran ini termasuk dalam model pembelajaran kooperatif. Pelaksanaannya dalam pembelajaran yaitu guru dapat membagi kelas dalam bentuk kelompok. Kelompok terdiri dari 4 hingga 6 anggota yang berbeda latar belakang kemampuan (heterogen). Kelompok ini juga harus mempertimbangkan unsur kedekatan teman akrab, hobi dan selera. Karena nantinya dapat menjadi faktor penentu pada tahap selanjutnya yaitu mempresentasikan jawaban dan kesimpulan dari hasil diskusi kelompok.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Lebih lanjut Suprijono (2009: 109) menguraikan langkah-langkah talking stick  sebagai berikut: pertama guru menyiapkan sebuah tongkat, kedua guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi, ketiga setelah selesai membaca materi pelajaran, siswa diperintahkan untuk menutup buku, keempat guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya hingga seluruh siswa mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru, kelima guru  memberikan kesempatan kepada siswa melakukan refleksi terhadap materi yang telah dipelajarinya, keenam guru memberikan ulasan terhadap seluruh jawaban yang diberikan siswa, ketujuh menyimpulkan materi pelajaran, kedelapan guru memberikan evaluasi, dan  terakhir adalah menutup pelajaran.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Menurut Suprijono (Enok: 2012: 20) kelebihan talking stick yaitu menguji kesiapan siswa, melatih siswa membaca dan memahami materi lebih cepat, mendorong siswa lebih giat belajar, siswa berani mengungkapkan pendapat. Sedangkan kekurangan metode talking stick yaitu membuat siswa kaget / senam jantung. Berbagai kelebihan dan kekurangan talking stick merupakan hal yang lumrah terjadi bahwa setiap metode, model atau strategi pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan tergantung pada bagaimana proses pembelajaran itu sendiri dan peran guru sebagai pembimbing agar talking stick berhasil diterapkan pada siswa sesuai dengan harapan dalam tujuan pembelajaran.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Setelah dilakukan pembelajaran pada materi simbol-simbol sila Pancasila di kelas II SD Negeri Medini 2, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak dengan model pembelajaran talking stick didapatkan fakta bahwa pemahaman siswa meningkat. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan hasil belajar secara klasikal. Kondisi demikian dapat terjadi karena siswa merasa senang selama proses pembelajaran yang dikemas dengan permainan tongkat. (*)